"Itu jalan keluarnya, daripada Bapak memberikan izin pada fakultas-fakultas kedokteran yang abal-abal itu. Kasihan, uji kompetensi enggak lulus karena kualitasnya rendah.

Yang rugi adalah rakyat Indonesia," imbuhnya.

Kekhawatiran terhadap Target 300 Perguruan Tinggi Kedokteran Baru

Edy Wuryanto menyoroti rencana pemerintah menambah hingga 300 perguruan tinggi kedokteran baru. Ia mengkhawatirkan penurunan standar mutu jika target kuantitas mengabaikan kualitas.

"Jadi saya agak worry juga ketika pemerintah ingin nambah 300 perguruan tinggi kedokteran, wong yang sekarang ada aja quality-nya dipertanyakan," kata Edy Wuryanto.

Ia mengingatkan agar ketimpangan rasio dokter dan penduduk tidak diselesaikan secara instan.

"Meskipun Pak Menteri Kesehatan memiliki perbandingan jumlah penduduk dengan dokter yang belum imbang, tapi hati-hati jangan sampai terjebak pada quantity tapi mengabaikan quality," ujarnya.

Menanggapi kritik, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, menjelaskan bahwa pemerintah menerapkan sistem pendampingan ketat. Kementerian membentuk perguruan tinggi pembina untuk melakukan mentoring terhadap institusi baru.

"Kita sebenarnya juga sudah membentuk namanya perguruan tinggi pembina untuk melakukan mentoring terhadap perguruan tinggi-perguruan tinggi penyelenggara kedokteran yang dianggap baru," kata Fauzan.

Selain itu, kementerian juga menyiapkan treatment khusus jika ditemukan wilayah dengan tingkat kelulusan UKOM rendah.

>>> Tower Bersama Infrastructure Bagikan Dividen Rp1,05 Triliun

"Ketika kami melihat ada satu wilayah yang membutuhkan, namun UKOM-nya rendah, tentu di sinilah kami juga melakukan treatment tersendiri," ungkap Fauzan.