Ibu hamil disarankan untuk menghindari paparan Bisphenol A (BPA) sejak masa persiapan kehamilan hingga trimester pertama.

Hal ini penting untuk mencegah risiko gangguan hormon pada anak di kemudian hari.

>>> Ekspor China Melonjak 19 Persen Berkat Permintaan Perangkat AI

Pakar obstetri dan ginekologi Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, MD, Sp. OG menekankan bahwa tiga bulan pertama kehamilan merupakan periode krusial.

Paparan BPA pada fase ini dapat memicu berbagai penyakit reproduksi seperti kista endometriosis, PCOS, hingga kanker.

"Ketika ibu hamil dalam tiga bulan pertama, itu tidak boleh dia terekspos dengan itu (BPA)," ujar Prof. Iko, sapaan akrabnya.

Ia juga menilai persiapan kesehatan reproduksi sebaiknya dimulai seratus hari sebelum kehamilan, bukan hanya seribu hari pertama kehidupan.

>>> Bank Mandiri Salurkan KUR Rp30 Juta dengan Bunga Ringan dan Tanpa Agunan

Langkah Preventif dan Peran POGI

Langkah preventif ini sejalan dengan program Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). Organisasi tersebut mengusung gerakan penataan kesehatan perempuan secara menyeluruh, dari perencanaan kehamilan hingga seterusnya.

Upaya meminimalkan risiko juga dilakukan dengan membatasi penggunaan galon dan kemasan plastik yang dipakai ulang.

BPOM RI telah menetapkan batas migrasi maksimal BPA sebesar 0,6 bagian per juta (mg/kg) dalam kemasan pangan.

Psikolog Ratih Zulhaqqi menambahkan bahwa pubertas dini bukan hanya masalah saat anak memasuki masa pubertas, tetapi juga terkait kesiapan calon orang tua.

>>> Ekonomi Korea Selatan Tumbuh 1,8 Persen pada Kuartal I 2026

Pola asuh ideal meliputi pengaturan jam tidur, jam makan, dan pengawasan konsumsi anak sejak masa kehamilan.