"Ada beberapa hal yang saya hindari, sukrosa ataupun gula tambahan, filler seperti maltodekstrin dan juga perisa sintetik," sebutnya.

Brand Ambassador AceKid Indonesia lainnya, Denny Sumargo, juga menerapkan kebiasaan membaca label dengan serius. "Saya benar-benar membalik kaleng susu, lalu membaca komposisinya dengan serius.

Komposisi yang ditulis paling pertama, berarti memiliki proporsi paling besar," tuturnya.

Risiko Kesehatan Akibat Asupan Gula Berlebih pada Anak

Kadar gula menjadi kandungan lain yang tidak boleh luput dari pencermatan orangtua. Selain berdampak buruk pada kesehatan gigi, pemberian asupan gula berlebih juga dapat memengaruhi perkembangan otak anak.

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Universitas Indonesia, Prof. DR. dr. Rini Sekartini, Sp.

A (K), mengungkapkan bahwa konsumsi gula berlebihan pada usia satu tahun pertama kehidupan dapat menurunkan kemampuan kecerdasan anak pada usia tiga tahun.

Dampak fisik lain dari konsumsi gula berlebih adalah risiko kelebihan berat badan atau obesitas.

Anak yang mengalami obesitas rentan terserang Obstructive Sleep Apnea (OSAS) yang dapat menyumbat saluran pernapasan saat tidur malam.

"Hati-hati kalau anak gemuk, kemudian dia mengorok, bisa terjadi OSAS, jadi pada saat nafas pada malam hari itu kesulitan.

>>> SMF Salurkan Seluruh PMN Rp6,68 Triliun untuk Program FLPP 2025

Sehingga oksigen ke otaknya berkurang," ucap dr. Rini.