"Pendekatan ini jauh lebih realistis dibanding mencoba menyaingi Singapura, Malaysia, atau Vietnam secara langsung di bidang yang sudah mereka kuasai," jelasnya.

Dari sisi kebijakan, prioritasnya menurut Yusuf cukup sederhana.

Pemerintah harus membangun talenta dalam skala besar, memastikan pasokan energi yang andal, menyederhanakan regulasi, dan mengaitkan insentif fiskal dengan transfer teknologi yang nyata.

Tantangan terbesar sebenarnya bukan pada penyusunan strategi, melainkan konsistensi pelaksanaannya.

Sementara itu, jika berbicara tentang peta jalan 10 hingga 20 tahun ke depan, Yusuf melihat prosesnya harus bertahap.

Lima tahun pertama, pemerintah bisa fokus pada pengembangan talenta, desain chip, industri material, dan penguatan ATP.

Lima tahun berikutnya Indonesia bisa menargetkan posisi sebagai pusat packaging dan testing regional serta mulai menarik investasi untuk chip yang lebih sederhana seperti semikonduktor daya dan sensor.

>>> Google Sewa Server AI SpaceX Senilai Rp 488 Triliun

Setelah fondasi tersebut terbentuk, barulah bisa berbicara mengenai kemampuan fabrikasi yang lebih maju dan pengembangan kekayaan intelektual sendiri.