Muhammad Rafi Faris Fadilah, pelajar asal Samarinda, Kalimantan Timur, menghabiskan 10 bulan di Alaska, Amerika Serikat, sebagai peserta program pertukaran pelajar Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES) 2025-2026.

Rey, sapaan akrabnya, ditempatkan di Juneau, ibu kota Alaska. Ia tinggal bersama keluarga angkat dan bersekolah di Juneau Douglas High School.

>>> Elfa's Singers Gelar Konser Tunggal Pesta Cinta di Jakarta

Awalnya Rey tidak menyangka akan ditempatkan di Alaska. Ia mengaku memilih pengalaman salju dalam aplikasinya, dan host family-nya memilihnya karena minatnya pada debat.

Beradaptasi dengan Suhu Ekstrem

Berasal dari daerah tropis, Rey harus beradaptasi dengan suhu dingin yang mencapai minus 2-3 derajat Celsius. "Awal-awal susah banget," ujarnya.

Meski berada di Alaska tenggara yang lebih hangat, suhu tetap di bawah nol. Rey mengaku tantangan terbesar adalah menghadapi cuaca dingin yang ekstrem.

Bergaul dengan Suku Indian dan Memanen Anjing Laut

Rey berkesempatan berinteraksi langsung dengan suku Indian Alaska. Ia ikut serta dalam aktivitas tradisional seperti memfilet salmon dan menyaksikan proses memanen anjing laut.

>>> Mandiri Utama Finance Dorong Kolaborasi Percepat Transisi Motor Listrik

"Itu menarik banget," kata Rey.

Ia juga mengikuti kelas Marine Biology dan Creative Writing, karena sebagai siswa pertukaran ia bebas memilih mata pelajaran.

Rey mengaku sistem pembelajaran di Alaska lebih banyak praktik dan berorientasi pada minat. Hal ini membantunya mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan public speaking.

>>> Bridgestone Indonesia Raih Penghargaan Kepatuhan Regulasi IRCA 2026

Setelah 10 bulan, Rey dan 47 peserta YES lainnya kembali ke Indonesia. Program ini didanai penuh oleh Pemerintah AS melalui Departemen Luar Negeri.