Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa Indonesia kembali menurun pada Mei 2026. Posisinya mencapai US$ 144,9 miliar, melanjutkan tren penurunan selama lima bulan beruntun.

Penurunan ini merupakan yang terpanjang sejak 2018. Penyebab utamanya adalah tingginya biaya intervensi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

>>> XXI Kembali Larang Tumbler Masuk Studio, Penonton Ramai-Ramai Protes di Media Sosial

Tekanan di pasar keuangan global turut mempengaruhi. Rupiah melemah 0,7 persen menuju rekor terendah terhadap dolar AS.

Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun melonjak 26 basis poin ke 7,14 persen, level tertinggi sejak April 2025.

Aksi jual regional juga berdampak pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi 2,5 persen.

Investor asing telah menarik modal lebih dari US$ 3,5 miliar dari pasar saham domestik sejak awal tahun.

>>> KAI Alokasikan PMN Rp 3,8 Triliun untuk Pengadaan KRL Baru PT INKA

Akibatnya, indeks acuan Jakarta merosot lebih dari 30 persen sejak awal tahun.

Untuk mengatasi tekanan, BI meningkatkan intervensi di pasar mata uang dan obligasi guna menopang rupiah yang melemah sekitar 8 persen sepanjang tahun ini.

Pemerintah bersama bank sentral berkomitmen meningkatkan daya tarik aset domestik bagi investor asing. Salah satu langkahnya adalah rencana kenaikan suku bunga atas simpanan pemerintah.

Meski cadangan devisa menurun, otoritas moneter menegaskan posisinya masih aman.

>>> Pemerintah Buka Peluang Penyesuaian Kuota Produksi Batubara Nasional

Jumlah tersebut cukup untuk membiayai 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, sehingga stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga.