Keutamaan lain yang disebutkan adalah cinta Allah SWT. Ketika seorang hamba menjaga ketakwaannya, ia memperoleh kedudukan mulia di sisi Allah dan mendapatkan kecintaan dari para penghuni langit.

Menjaga Keluarga dengan Ketakwaan

Dalam bagian berikutnya, khutbah mengingatkan pentingnya ketakwaan sebagai benteng keluarga. Masa depan anak dan keturunan tidak hanya ditentukan oleh usaha duniawi, tetapi juga oleh kualitas hubungan orang tua dengan Allah SWT.

Karena itu, jamaah diajak memperbaiki ketakwaan sekaligus menjaga lisan agar selalu berkata benar. Sikap tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keluarga tetap berada dalam jalan yang diridhai Allah.

Khutbah juga menegaskan bahwa diterima atau tidaknya amal seseorang sangat berkaitan dengan ketakwaan. Amal yang dilakukan dengan hati yang tunduk kepada Allah memiliki nilai yang lebih besar di sisi-Nya.

Kemuliaan Ahli Takwa di Akhirat

Pada khutbah kedua, pembahasan diarahkan kepada balasan yang menanti orang-orang bertakwa di akhirat. Jika berbagai manfaat telah dirasakan ketika hidup di dunia, maka balasan di akhirat disebut jauh lebih agung dan tidak dapat dibayangkan oleh manusia.

Orang-orang bertakwa akan mendapatkan penghormatan ketika hari kiamat tiba. Mereka memperoleh perlakuan yang berbeda dibanding manusia yang diliputi ketakutan akibat perbuatannya selama hidup.

Khutbah juga mengingatkan bahwa seluruh hubungan yang dibangun atas dasar kepentingan dunia akan berakhir. Namun persaudaraan yang lahir dari ketakwaan akan tetap terjaga dan menjadi sebab keselamatan.

Pada akhirnya, surga disebut sebagai tempat kembali bagi hamba-hamba yang bertakwa. Karena itu, jamaah diajak memanfaatkan kesempatan hidup yang masih diberikan Allah untuk memperbanyak amal saleh dan menjaga ketakwaan hingga akhir hayat.

Khutbah ditutup dengan doa agar umat Islam senantiasa diberi kekuatan untuk istiqamah, memperoleh keberkahan bagi keluarga, serta mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat.