Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyoroti sejumlah tantangan berat yang membayangi tingkat hunian kamar hotel menjelang periode libur panjang anak sekolah tahun 2026.

Dinamika kondisi ekonomi saat ini membuat prospek peningkatan pemesanan akomodasi tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya.

>>> Sarwendah Disorot Usai Dugaan Bayar Buzzer untuk Video Permintaan Maaf Muncul di Media Sosial

Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran mengatakan, kondisi sekarang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

"Apalagi kita melihat, itu kan kita bicaranya untuk perjalanan wisatawan nusantara, ini memang tantangannya cukup banyak," ujarnya.

Pelemahan Rupiah dan Kenaikan Harga Tiket

Faktor utama yang menahan minat masyarakat untuk bepergian adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Hal itu memicu lonjakan biaya perjalanan, termasuk harga tiket yang naik signifikan.

Kenaikan biaya akomodasi dan transportasi berpotensi membuat pelancong domestik menunda liburan mereka.

>>> Area Pernikahan Dua Lipa dan Callum Turner Ditutup, Warga Palermo Pasang Poster Protes

Namun, situasi ini juga dapat mengalihkan destinasi tujuan ke dalam negeri.

Maulana Yusran berharap wisatawan yang tadinya melakukan perjalanan ke luar negeri (outbound) akan berpikir untuk melakukan perjalanan pendek di Indonesia saja.

Hingga saat ini, PHRI belum bisa memastikan persentase pergerakan angka okupansi karena kuatnya pengaruh faktor eksternal terhadap keputusan masyarakat.

"Saya belum tahu nanti turun atau tidak, tapi seharusnya pada umumnya meningkat. Namun sekarang tantangannya ada.

Kita tidak boleh lupa," kata Maulana Yusran.

>>> HUAWEI nova 14 Pro atau Vivo V70, Pilih yang Sesuai dengan Kebutuhan Harian

Untuk mengantisipasi ketidakpastian, PHRI mengimbau para pengelola hotel gencar melakukan promosi dan menawarkan program menarik guna menjaga kinerja sektor pariwisata di pertengahan tahun 2026.