Ban mobil listrik diketahui memiliki masa pakai yang lebih pendek dibandingkan ban mobil konvensional. Hal ini disebabkan oleh tekanan kerja yang lebih besar pada komponen roda kendaraan elektrik.

Head of Original Equipment (OE) Sales PT Bridgestone Tire Indonesia, Fisa Rizqiano, mengonfirmasi bahwa bobot kendaraan yang lebih berat menjadi salah satu penyebab utama.

>>> Polri Siapkan Operasi Patuh 2026 Mulai 8 Juni Mendatang

"Benar sekali, sebab bobotnya lebih berat dan momen inersianya lebih besar, sehingga ketika berakselerasi ada semacam friksi yang besar dibandingkan dengan mobil biasa (ICE)," ujarnya kepada Kompas.

com.

Selain bobot, karakter torsi instan pada mobil listrik juga membuat ban bekerja lebih keras. Kondisi ini terutama terasa saat kendaraan baru mulai melaju.

Faktor lain yang menambah beban adalah penempatan baterai berkapasitas besar di bawah mobil.

Untuk mengatasi hal ini, ban mobil listrik dirancang dengan spesifikasi khusus meskipun ukuran tapaknya tampak sama.

>>> BYD Siap Kembangkan dan Jual Robot Humanoid Secara Massal

Fisa mencontohkan, ban ukuran 215/55-17 biasanya memiliki load index 94, tetapi untuk mobil listrik dinaikkan menjadi 98.

"Biar bisa menanggung lebih berat meski ukurannya sama. Sebetulnya bisa pakai ban yang lebih besar, tapi akan makan ruang," katanya.

Produsen ban juga menggunakan material atau kompon khusus untuk menjawab tantangan teknis tersebut.

Langkah ini tidak hanya untuk menahan beban dan torsi, tetapi juga untuk mengurangi gesekan agar efisiensi daya tetap optimal.

>>> Dishub DKI Siapkan 10 Kantong Parkir di GBK Antisipasi 43.000 Pengunjung

Dengan berbagai penyesuaian material, Bridgestone berharap daya tahan ban mobil listrik tetap optimal. Inovasi teknologi pada roda ini juga berperan penting dalam mempertahankan efisiensi dan jarak tempuh kendaraan.