Sebagian besar produsen mobil listrik kini meniadakan ban serep dan menggantinya dengan teknologi alternatif. Langkah ini dilakukan untuk menghemat ruang kabin serta mengurangi bobot kendaraan.

Faktor utama ketiadaan ban cadangan adalah ukuran baterai yang besar sehingga menyita kapasitas ruang. Meski demikian, produsen telah menyiapkan strategi mitigasi untuk membantu konsumen yang mengalami ban bocor.

>>> Andoni Iraola dan Arne Slot Sepakati Target Liga Champions Liverpool

Alasan dan Solusi dari Produsen

Head of Marketing MG Motor Indonesia, Harry Kurniawan, menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan menghemat ruang dan mengurangi bobot.

Baterai besar sudah menyita volume kabin, sehingga ban serep dihilangkan.

MG menyediakan layanan bantuan darurat di jalan raya bagi pengguna yang mengalami masalah ban.

Layanan Emergency Roadside Assistance (ERA) dan towing dapat diakses melalui MG Care di 0800-1-880-990, tersedia 24 jam sehari.

>>> Studi Ungkap Jumlah Langkah Harian Paling Efektif Cegah Kenaikan Berat Badan

Langkah serupa juga diambil Wuling Motors dengan menyertakan perangkat perbaikan mandiri.

Product Planning Wuling Motors, Aji Ibrahim, mengatakan setiap unit mobil listrik dilengkapi penambal ban darurat dan tire pressure monitoring system (TPMS).

Peniadaan ban cadangan didukung Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 33 Tahun 2018 Pasal 14.

Regulasi memperbolehkan penggantian ban serep dengan teknologi Run Flat Tire (RFT), tire repair kit, atau teknologi lain.

>>> Kejagung Ungkap Dugaan Intervensi Proyek Motor Listrik BGN Rp1 Triliun

Kendaraan dengan teknologi pengganti juga dibebaskan dari kewajiban membawa dongkrak atau alat pembuka roda.