Dalam dinamika organisasi sebesar Nahdlatul Ulama (NU), jebakan mentalitas ana wal akhar (aku dan yang lain) sering kali menjadi celah yang melemahkan potensi besar organisasi.

Sikap ini memunculkan fragmentasi, di mana kader terjebak dalam sekat-sekat kelompok, faksi, atau kepentingan personal.

>>> Timnas Jerman Kalahkan Amerika Serikat 2-1 di Laga Uji Coba

Tantangan zaman di abad kedua NU tidak bisa diselesaikan oleh satu figur atau satu kelompok saja.

Menghadapi disrupsi teknologi, tantangan ekonomi umat, dan pergeseran nilai sosial, kekuatan NU terletak pada keragaman potensi yang dimilikinya.

Transformasi dari Ana Wal Akhar ke Nahnu

Sudah saatnya orientasi berpikir diubah secara radikal menjadi nahnu (kita).

Ini bukan sekadar perubahan leksikal, melainkan transformasi filosofis yang mendalam.

Nahnu adalah manifestasi dari semangat ukhuwah nahdliyah yang diterjemahkan ke dalam bahasa profesionalisme modern.

Dalam konsep nahnu, tidak ada lagi istilah kader yang berjalan sendiri-sendiri atau saling meniadakan.

Setiap kader—dari kalangan intelektual, profesional, birokrat, kiai, hingga aktivis akar rumput—memiliki peran yang saling melengkapi.

Kita harus bertransformasi menjadi sebuah super tim yang kompak, di mana kelemahan satu kader ditutupi oleh kelebihan kader lainnya.

Langkah Strategis Menuju Kebangkitan NU

Memasuki abad kedua, NU diberkahi dengan limpahan Sumber Daya Manusia (SDM) yang luar biasa.

Ulama dan cendekiawan muda NU hari ini tersebar di berbagai sektor strategis, baik di tingkat nasional maupun global.

Potensi besar ini tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri atau saling berkompetisi secara tidak sehat.

Langkah pertama adalah Konsolidasi Talenta untuk memetakan dan mengumpulkan para ahli di berbagai bidang ke dalam simpul-simpul strategis NU.

Upaya ini diperkuat melalui kolaborasi lintas generasi yang menjembatani pengalaman kiai senior dengan inovasi kaum muda NU, termasuk Gen Z dan Milenial.