Setiap gelaran Piala Dunia, dukungan fanatik terhadap tim nasional sepak bola Belanda menjadi tradisi yang mengakar kuat di kalangan masyarakat Maluku.

Tradisi ini berlangsung secara turun-temurun dari generasi opa hingga ke anak cucu.

>>> Capcom Konfirmasi Tifa Lockhart Hadir di Street Fighter 6 Musim Keempat

Saat kompetisi berlangsung, suasana di Ambon, Maluku, dipenuhi dengan kibaran bendera merah putih biru milik Belanda.

Bendera-bendera tersebut dipasang tinggi menggunakan tiang bambu di pepohonan maupun di pagar depan rumah warga.

Fanatisme ini lahir dari kombinasi ikatan sejarah, budaya, serta hubungan silsilah keluarga.

Banyak pesepak bola top Belanda yang diketahui memiliki darah keturunan Maluku.

Deretan pemain tersebut di antaranya adalah Ruud Gullit, Giovanni van Bronckhorst, Simon Tahamata, dan Sonny Silooy.

Selain itu, ada pula Tijjani Reijnders, Jenson Seelt, Denny Landzaat, hingga Virgil van Dijk.

Antusiasme masyarakat Maluku dalam mendukung timnas oranye selalu terlihat lewat kegiatan nonton bareng yang digelar di setiap pertandingan.

Hubungan emosional ini juga diperkuat oleh kedatangan diaspora Maluku dari Belanda.

>>> Kementerian PU Siapkan Ulang Uji Coba Bayar Tol Tanpa Setop

Setiap liburan musim panas di Eropa yang jatuh pada bulan Juli sampai Agustus, banyak diaspora Maluku pulang kampung untuk mengunjungi kerabat mereka.

Fenomena ini dikenal sebagai Tracing Your Roots di Belanda.

Melalui fenomena tersebut, generasi muda Belanda keturunan Maluku datang untuk bernostalgia.

Mereka mencari jejak leluhur serta sejarah keluarga Indo-Belanda di Indonesia.

Selama berlibur di Maluku, para diaspora menikmati keindahan pantai berpasir putih dan kesegaran kelapa muda.

Mereka juga mencicipi kuliner lokal seperti papeda dan ikan kuah kuning khas Maluku.

Ketika kembali ke Belanda, rempah-rempah seperti pala, cengkeh, dan kayu manis menjadi oleh-oleh favorit yang wajib dibawa.

>>> Komisi X DPR Kritik Aturan KIP Kuliah yang Diskriminatif terhadap Anak PNS Bergaji Rendah

Komoditas ini pula yang dahulu menarik perhatian nenek moyang mereka untuk berlayar ke Maluku pada tahun 1599 di bawah pimpinan Wybrand van Warwijck.