Realisasi investasi hilirisasi di Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai sekitar Rp 147,5 triliun. Sektor nikel menjadi penyumbang terbesar dengan penyerapan dana sekitar Rp 41,5 triliun.

Pemerintah Indonesia kini fokus memastikan keberhasilan hilirisasi nikel tidak hanya bertumpu pada kapasitas produksi dan nilai investasi. Pemenuhan standar keberlanjutan menjadi prasyarat mutlak untuk menembus akses pasar global.

>>> Pemerintah AS Sita 21 Anak dari Pasangan di Arcadia

Isu tersebut mengemuka dalam diskusi "Responsible Downstreaming at Scale: North Maluku Sustainable Experience" yang digelar Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia.

Agenda ini merupakan bagian dari Indonesia Critical Minerals Conference 2026.

Pertemuan tersebut memfasilitasi pemerintah daerah, pelaku industri, dan organisasi internasional untuk mengulas praktik hilirisasi bertanggung jawab di Maluku Utara.

Wilayah ini diproyeksikan menjadi acuan global untuk mendukung transisi energi dunia.

Diskusi ini merupakan kelanjutan dari rangkaian kegiatan North Maluku Sustainability Trip di IWIP yang berlangsung pada 1-2 Juni lalu.

Ketua ESDM Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia, Ovan Tito, menjelaskan bahwa kunjungan ke Indonesia Weda-bay Industrial Park (IWIP) bertujuan meninjau langsung ekosistem hilirisasi nikel di lapangan.

"Banyak peserta datang dengan berbagai perspektif dan ekspektasi mengenai industri nikel Indonesia.

Namun setelah melihat langsung operasional di lapangan, investasi lingkungan yang dilakukan, serta keterbukaan berbagai pihak dalam berdialog, kami melihat sebuah ekosistem industri yang beroperasi pada skala kelas dunia dan terus berupaya meningkatkan standar keberlanjutannya," ujar Ovan dikutip dari keterangan resmi, Sabtu (6/6/2026).

Dampak hilirisasi ini memperkuat perekonomian nasional lewat lonjakan ekspor produk turunan nikel.

Nilai ekspor melonjak hampir sepuluh kali lipat dari US$ 3,3 miliar pada 2018 menjadi sekitar US$ 34 miliar pada 2024.