Aktivitas bermain pada anak memiliki tahapan spesifik yang disesuaikan dengan usia. Pembagian ini bukan sekadar hiburan, melainkan untuk memberikan stimulasi tumbuh kembang yang terukur.

Psikolog klinis dan keluarga, Pritta Tyas M. Psi, menjelaskan bahwa anak hingga usia delapan tahun membutuhkan fokus utama pada pergerakan fisik.

>>> 9 Rekomendasi Kimono Melahirkan Terbaik yang Nyaman dan Adem

Kelompok usia ini disarankan melakukan aktivitas bergerak atau olahraga minimal 180 menit per hari.

"Sebenarnya bermain itu ada tahapannya.

Riset mengatakan anak sehari harus paling tidak 180 menit bergerak, lebih bagus lagi jika olahraga," kata Pritta dalam acara LEGO Playground di Grand Indonesia, Jakarta, Jumat, 5 Juni 2026.

Kebutuhan bermain berubah saat anak memasuki usia 9 hingga 15 tahun.

Pada fase ini, anak mulai memerlukan interaksi dengan teman sebaya untuk mendukung perkembangan sosial dan melatih kerja sama.

Pendampingan orang tua tetap penting saat anak bermain. Namun, keterlibatan orang tua tidak boleh membatasi agar kemampuan resiliensi anak dapat terbangun.

Orang tua tidak perlu khawatir soal durasi bermain. Fokus utama adalah kualitas momen bermain tanpa gangguan gawai atau pekerjaan lain, meskipun waktunya terbatas.

"Walaupun hanya 15 hingga 20 menit, usahakan orang tua benar-benar fokus pada anak, tanpa terganggu ponsel atau pekerjaan lain," jelas Pritta.

Pentingnya waktu bermain bersama keluarga tercermin dalam LEGO Play Well Report 2026. Laporan tersebut menunjukkan 98 persen keluarga ingin durasi bermain bersama lebih sering.

>>> Turis Asing Mulai Jelajahi Destinasi Wisata Selain Bali

Bagi orang tua, bermain menjadi medium membantu anak memahami lingkungan sekitarnya. Momen ini juga membuka ruang komunikasi yang lebih interaktif antara anak dan orang tua.