Volatilitas harga emas yang tinggi memicu pelemahan permintaan emas fisik di kawasan Asia pada pekan ini. Para pembeli memilih menunda transaksi sambil menunggu kepastian arah harga.

Kondisi ini terutama terlihat di India dan China, dua negara konsumen emas terbesar dunia. Konsumen di kedua negara memilih untuk wait and see.

>>> Jadwal Semifinal Indonesia Open 6 Juni 2026: Derbi Ganda Putra Tersaji

Di India, harga emas domestik diperdagangkan di sekitar 158.400 rupee atau setara Rp30 juta per 10 gram pada Jumat (5/6/2026).

Untuk menarik minat, para dealer menawarkan diskon hingga US$87 per ons dari harga resmi domestik yang sudah termasuk bea masuk 15% dan pajak penjualan 3%.

Lesunya aktivitas perdagangan juga dipengaruhi oleh siklus musiman tahunan di India yang memasuki fase akhir. "Musim pernikahan mulai berakhir.

Permintaan ritel terus melambat dan toko perhiasan melaporkan penurunan jumlah pengunjung di berbagai wilayah," ujar seorang dealer logam mulia di Mumbai.

Kelesuan belanja konsumen memaksa pelaku usaha menyesuaikan strategi penjualan.

"Permintaan tetap lesu dalam beberapa pekan terakhir sehingga stok emas lama dijual dengan diskon lebih besar untuk menarik pembeli," kata Kepala Pemasaran Ashta Siddhi Bullion & Jewellers, Nitin Suryavanshi.

>>> CEO GM Soroti Dampak Kelebihan Produksi EV di Tiongkok

Tekanan terhadap daya beli di India diperparah oleh kebijakan pemerintah yang menaikkan tarif impor perak dan emas menjadi 15% dari sebelumnya 6% pada bulan lalu.

Situasi serupa terjadi di China, di mana premi emas fisik turun menjadi US$7–US$10 per ons di atas harga acuan global, dari pekan sebelumnya US$9–US$12 per ons.

Pergerakan pasar modal makro juga memberikan sentimen negatif terhadap minat investor pada aset aman ini.

"Faktor-faktor tersebut mengurangi daya tarik emas dalam jangka pendek," kata Direktur Regional Greater China MKS PAMP, Bernard Sin.

Di pasar Asia lainnya, perdagangan emas Hong Kong berada di harga setara hingga premi US$2 per ons.

>>> DPRD Banten Siap Kawal Investasi Tiongkok di Lebak untuk Perluas Lapangan Kerja

Jepang mencatat diskon US$0,25 per ons, sementara Singapura berada di kisaran diskon US$0,50 hingga premi US$3 per ons.