CEO General Motors (GM) Mary Barra menyoroti tekanan berat di pasar kendaraan listrik (EV) Tiongkok akibat kelebihan kapasitas produksi dan perang harga yang kian sengit.

Situasi ini mendorong produsen otomotif Tiongkok gencar melakukan ekspansi ekspor ke pasar global untuk menjaga keberlangsungan bisnis.

>>> DPRD Banten Siap Kawal Investasi Tiongkok di Lebak untuk Perluas Lapangan Kerja

Barra menilai persaingan tidak sehat terjadi karena diskon agresif merusak profitabilitas jangka pendek.

"Tidak mungkin lebih dari 100 produsen otomotif di satu negara dapat terus bersaing, terutama ketika persaingan bertumpu pada harga," ujar Barra dalam podcast Decoder milik The Verge, dikutip dari Business Insider.

Ekspor massal produsen Tiongkok sering mendapat sokongan subsidi pemerintah, memperketat kompetisi global.

"Perlu dilihat model bisnis yang berkelanjutan karena kondisi saat ini tidak dapat berlangsung selamanya," kata Barra dalam konferensi TechCrunch Disrupt.

Penurunan kinerja akibat perang harga mulai dirasakan BYD, yang mencatat penjualan 396.270 kendaraan pada September, turun 5,5 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai 419.426 unit.

>>> Dokter Edukasi Masyarakat Cara Membaca Kandungan Gula pada Label Nutrisi

He Xiaopeng, Pendiri sekaligus CEO Xpeng, memperkirakan hanya akan ada tujuh perusahaan otomotif besar yang bertahan dalam 10 tahun mendatang.

Tekanan di sektor EV juga berdampak pada strategi GM di AS. Perusahaan membebankan biaya US$1,6 miliar untuk menyelaraskan kapasitas manufaktur dengan permintaan konsumen.

Langkah ini diambil setelah pemerintahan Presiden Donald Trump mencabut insentif kredit pajak EV sebesar US$7.500 untuk unit baru.

"Kami memperkirakan pertumbuhan EV akan melambat. Namun yang penting, pasar EV masih akan terus tumbuh," kata Barra.

>>> Ramalan Zodiak Hari Ini: Tiga Rasi Bintang Perlu Antisipasi Masalah

Meskipun adopsi EV di AS melambat, saham GM menguat lebih dari 27 persen sejak awal tahun.