El Clasico, laga antara Real Madrid dan FC Barcelona, telah menjadi salah satu rivalitas paling spektakuler dalam sejarah sepak bola.

Pertandingan dua raksasa Spanyol ini kini dinantikan oleh jutaan penggemar di seluruh dunia.

>>> Awal Musim Megah Kylian Mbappe Berubah Menjadi Mimpi Buruk

Pertemuan pertama kedua tim terjadi pada tahun 1902, tiga tahun setelah Barcelona berdiri dan tahun yang sama dengan pendirian Real Madrid.

Laga tersebut merupakan bagian dari Concurso Madrid de Foot-Ball Association, sebuah kompetisi tidak resmi.

Pada masa awal, sebagian besar bentrokan hanya bertajuk pertandingan persahabatan.

Sebab, kompetisi kasta tertinggi Liga Spanyol belum terbentuk, dan satu-satunya turnamen nasional saat itu adalah Copa de Espana.

Intensitas pertemuan semakin rutin setelah La Liga resmi didirikan pada tahun 1929.

Memasuki pertengahan abad ke-20, persaingan mulai mengambil dimensi baru yang lebih panas di dalam maupun luar lapangan.

Meski berasal dari kota berbeda, pertandingan ini awalnya lebih dikenal sebagai derby, bukan El Clasico.

Persaingan memuncak dipicu perselisihan transfer pemain, seperti perebutan Alfredo di Stefano pada era 1950-an, serta keputusan wasit kontroversial.

Ketatnya rivalitas juga didukung oleh kehadiran pemain terbaik dunia. Barcelona diperkuat Ladislao Kubala dan Luis Suarez, sementara Real Madrid mengandalkan Ferenc Puskas serta Alfredo di Stefano.

Kemenangan Telak dan Istilah La Manita

Sepanjang sejarah, persaingan kedua tim cenderung seimbang. Namun, beberapa pertandingan berakhir dengan skor sangat mencolok.

Kemenangan telak Barcelona memunculkan istilah La Manita, yang merujuk pada keberhasilan mencetak 5 gol ke gawang rival.

Salah satu momen ikonik terjadi pada 1974 ketika Johan Cruyff memimpin Barca menang 5-0 di Santiago Bernabeu.