Upaya pengambilalihan Manchester United oleh kelompok investor Qatar tampaknya tidak akan berlanjut.

Konsorsium yang dipimpin Sheikh Jassim bin Hamad Al Thani disebut tidak akan kembali dengan proposal baru, meski muncul laporan bahwa sebagian anggota keluarga Glazer mulai mempertimbangkan penjualan klub.

>>> Inggris Hadapi Selandia Baru pada Hari Kedua Test Kriket

Keluarga Glazer sebenarnya telah membuka peluang bagi calon investor untuk mengajukan penawaran sejak tiga tahun lalu. Sheikh Jassim saat itu berusaha menyelesaikan akuisisi penuh, tetapi gagal mencapai kesepakatan.

Sebaliknya, pemilik INEOS, Sir Jim Ratcliffe, berhasil mengamankan kepemilikan sebagian saham klub senilai sekitar 1,3 miliar paun.

Kekecewaan di Balik Negosiasi

Bloomberg melaporkan bahwa beberapa anggota keluarga Glazer terbuka terhadap kemungkinan menjual saham mereka. Mereka kini berupaya meyakinkan anggota keluarga lainnya untuk mengambil langkah serupa.

Laporan tersebut langsung memicu spekulasi mengenai pihak yang berpotensi masuk sebagai pembeli baru. Nama Sheikh Jassim kembali dikaitkan dengan klub, tetapi peluang itu disebut sangat kecil.

Berdasarkan laporan Mail Online, kelompok investor Qatar masih menyimpan kekecewaan mendalam akibat proses negosiasi yang berlangsung pada upaya sebelumnya.

>>> Macarthur Bulls FC Perpanjang Kontrak Luke Vickery hingga 2028

Pada 2024, pihak yang mewakili kelompok investor Qatar mengakui adanya penyesalan karena kesepakatan gagal tercapai. Mereka merasa dipermainkan dan syarat-syarat yang ditetapkan terus berubah.

Saat mengajukan penawaran pada 2023, Sheikh Jassim sempat memaparkan rencana besar untuk mengembalikan klub ke puncak kejayaan. Ia menjanjikan akuisisi bebas utang melalui Nine Two Foundation.

Namun, seluruh rencana besar tersebut tidak pernah menjadi kenyataan. Kini, kelompok Sheikh Jassim tidak memiliki keinginan untuk kembali terlibat dalam proses pembelian.

Di sisi lain, masa kepemilikan Sir Jim Ratcliffe di Old Trafford sejauh ini belum sepenuhnya mendapat dukungan dari suporter.

Langkah efisiensi besar-besaran, termasuk pemutusan hubungan kerja terhadap banyak karyawan, memicu ketidakpuasan.

>>> Timnas Indonesia Jamu Oman di FIFA Matchday Jakarta, Target Putus Tren Buruk

Pergantian pelatih yang terus terjadi dalam beberapa musim terakhir turut menambah frustrasi suporter. Mereka masih menantikan stabilitas dan kebangkitan klub di lapangan.