Fokus mereka tetap berada pada kehidupan nyata dan produktivitas harian.

>>> Timnas Indonesia Unggul 2-0 atas Oman di Babak Pertama FIFA Matchday

Selain itu, platform digital juga dimanfaatkan sebagai sarana belajar untuk mencari pengetahuan dan perspektif baru.

Mereka cenderung mengikuti akun-akun yang menyajikan wawasan mendalam, analisis ilmiah, atau keterampilan yang meningkatkan kualitas diri.

Berpikir Kritis dalam Menyaring Informasi

Kemampuan berpikir kritis membuat kelompok individu ini tidak mudah menerima informasi begitu saja.

Mereka terbiasa memeriksa kredibilitas sumber informasi, menghindari hoaks, serta menjauhi teori konspirasi yang tidak memiliki dasar kuat.

Mereka juga tidak mudah terpancing oleh judul artikel yang sensasional atau clickbait.

Sikap hati-hati sangat diterapkan sebelum membagikan informasi kepada orang lain karena mereka memahami pentingnya akurasi.

Terdapat beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan media sosial.

Langkah tersebut meliputi pengurangan waktu menatap layar dan menjauhkan ponsel saat sedang bekerja atau belajar.

Penggunaan ponsel juga sebaiknya dihindari ketika sedang makan bersama keluarga atau teman.

Media sosial harus diarahkan untuk membagikan informasi bermanfaat serta memperlakukan orang lain secara hormat.

Langkah penting lainnya adalah menghindari ketergantungan pada jumlah likes, views, atau komentar.

Memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dari media sosial secara berkala juga sangat dianjurkan.

Tingkat kecerdasan seseorang pada akhirnya tidak ditentukan oleh seberapa sering mereka menggunakan media sosial, melainkan bagaimana cara mereka mengoperasikannya.

>>> Jonatan Christie Kalahkan Yushi Tanaka, Lolos ke Semifinal Indonesia Open 2026

Kemampuan mengendalikan diri, berpikir kritis, menyaring informasi, dan memanfaatkan teknologi secara produktif menjadi indikator yang jauh lebih esensial.