Tren kendaraan roda dua ramah lingkungan mendorong munculnya bengkel spesialis motor listrik. Namun, jumlah penyedia layanan perbaikan khusus ini masih sangat terbatas.

Pemilik sekaligus teknisi Bengkel Motor Listrik dan Sepeda Listrik Bogor RI EV Maintenance, Ridwan Alawi, membeberkan sejumlah kendala utama yang dihadapi pelaku usaha.

>>> Pemesanan Wuling Eksion Tembus 1.500 Unit, Harga Segera Naik

Masalah pertama adalah ketersediaan suku cadang yang masih langka di pasar domestik. Pelaku usaha terpaksa mengandalkan pasokan dari luar negeri.

"Kita saat ini masih mengandalkan aftermarket dan impor secara langsung atau kolektif. Sebagian besar dari Jogja dan Surabaya, hampir 70 persen secara online," kata Alawi kepada Kompas.

com, Selasa (3/6/2026).

Akibat ketergantungan impor, proses perbaikan tidak bisa langsung selesai. Pemilik kendaraan harus rela menunggu komponen pesanan tiba.

>>> Uber Investasi Rp 8 Triliun di Nuro untuk Robotaxi

Persoalan Limbah Baterai

Tantangan besar lainnya adalah pengelolaan sisa baterai. Menurut Alawi, penanganan baterai tergantung pada jenis teknologinya.

Baterai tipe Sealed Lead Acid (SLA) atau aki relatif mudah didaur ulang karena masih bernilai ekonomis. "Nantinya akan dilebur dan dijual ke pengepul timah," jelasnya.

Sebaliknya, baterai berbasis litium belum memiliki solusi daur ulang di Indonesia. "Recycle untuk litium belum ada.

Di Cina sudah ada, tapi sangat mahal karena bahan kimia berbahaya," ujar Alawi.

>>> Dishub DKI Jakarta Kembali Gelar Car Free Day di Rasuna Said

Saat ini, limbah baterai litium hanya dikumpulkan di tempat aman untuk menghindari benturan dan kebakaran. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.