Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami penurunan tajam pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026.

Harga saham bank swasta terbesar di Indonesia itu anjlok 6,45 persen ke posisi Rp5.075 per lembar.

>>> OJK Dorong Delapan Perusahaan Multifinance Penuhi Ekuitas Minimum Rp100 Miliar

Level tersebut merupakan yang terendah dalam lima tahun terakhir.

Penurunan ini sejalan dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang longsor 4,20 persen ke level 5.594.

Volume perdagangan saham BBCA mencapai 572,61 juta saham dengan frekuensi 98.350 kali. Total nilai transaksi tercatat sebesar Rp2,96 triliun.

Tekanan jual terhadap saham BBCA sangat kuat.

Data dari Stockbit Sekuritas menunjukkan aksi jual bersih (net sell) oleh investor mencapai Rp490,5 miliar pada akhir sesi.

Analisis Teknikal dan Prospek

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) dalam tinjauan teknikalnya menyebut pergerakan BBCA masih dalam tren bearish. Pola Head and Shoulders pada grafik mingguan mengonfirmasi penurunan ini.

>>> Florentino Perez Janjikan Dana Transfer 150 Juta Euro demi Kursi Presiden Real Madrid

Lonjakan volume perdagangan yang menyertai penurunan harga menunjukkan dominasi tekanan jual. Indikator MACD juga masih berada di area negatif.

BRIDS mencatat aksi jual bersih investor asing (net foreign sell) pada BBCA sejak awal tahun telah menembus Rp31,34 triliun.

Arus keluar dana asing dari saham ini masih terus berlanjut.

"Harga saat ini mendekati support kuat 4.775–4.100, yang berpotensi menjadi area pembentukan support," tulis BRIDS dalam risetnya, Jumat sore.

Pihak broker menilai tren penurunan akan tetap mendominasi selama BBCA belum mampu berbalik arah dan menembus batas atas di level 5.700–6.000.

>>> LaLiga EA Sports Cetak Rekor Penonton Tertinggi Sepanjang Sejarah

Meski demikian, kinerja fundamental BBCA masih solid dengan laba bersih kuartal I 2026 sebesar Rp14,68 triliun, tumbuh 4 persen year on year.