Dunia sastra dan perfilman kehilangan salah satu suara paling berpengaruh dari generasinya. Marjane Satrapi, penulis, ilustrator, sutradara, sekaligus aktivis keturunan Iran yang berkewarganegaraan Prancis, meninggal dunia pada usia 56 tahun.

Kabar duka tersebut dikonfirmasi Istana Élysée di Paris. Dalam pernyataannya, pemerintah Prancis mengenang Satrapi sebagai sosok yang berhasil menjangkau pembaca dan penonton dari berbagai negara melalui karya-karyanya yang sarat pengalaman pribadi dan pesan kemanusiaan.

Nama Satrapi dikenal luas lewat Persepolis, seri novel grafis autobiografis yang terbit pada 2000. Karya itu mengisahkan masa kecilnya di Teheran ketika Iran mengalami perubahan besar setelah Revolusi Islam 1979.

Lewat sudut pandang seorang anak, Satrapi menggambarkan kehidupan sehari-hari di tengah pembatasan sosial dan politik yang muncul setelah pergantian rezim. Kisah tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu novel grafis paling dikenal di dunia.

>>> Meta Luncurkan Instagram Plus Berbayar Secara Global, Ini Fiturnya

Pada 2008, Persepolis diadaptasi menjadi film animasi yang disutradarai bersama oleh Satrapi. Film tersebut mendapat sambutan luas dan masuk nominasi Oscar untuk kategori Film Animasi Terbaik.

Istana Élysée menyebut Satrapi sebagai figur penting dalam kebudayaan Prancis. Menurut keterangan resmi, karya-karyanya menyampaikan pesan yang melampaui batas negara dan latar belakang budaya.

Dalam penghormatan yang disampaikan pemerintah Prancis, gaya bertutur Satrapi dinilai mampu menghadirkan kisah yang dekat dengan pembaca melalui perpaduan ironi, kepekaan, dan pergulatan batin yang ia tuangkan ke dalam cerita.

Presiden Prancis Emmanuel Macron turut menyampaikan belasungkawa. Ia mengenang Satrapi sebagai seniman besar yang berhasil mengubah pengalaman masa kecil seorang warga Iran menjadi kisah yang dapat dipahami oleh masyarakat di berbagai belahan dunia.

Menurut informasi yang disampaikan AFP dengan mengutip seseorang dari lingkaran terdekatnya, Satrapi disebut mengalami kesedihan mendalam setelah kehilangan suaminya, Mattias Ripa, yang meninggal lebih dari setahun lalu.

Selain dikenal melalui karya seni dan film, Satrapi selama bertahun-tahun juga menjadi pengkritik terbuka pemerintah Iran. Pandangan tersebut tercermin dalam berbagai karya yang ia hasilkan, terutama Persepolis, yang mengangkat pengalaman hidupnya di bawah aturan yang diberlakukan setelah revolusi.

Kepergian Satrapi menutup perjalanan seorang seniman yang menjadikan pengalaman pribadi sebagai jendela untuk memahami sejarah, kebebasan, dan identitas.