Nasaruddin juga mengapresiasi madrasah dan pesantren yang tetap berprestasi meskipun memiliki keterbatasan anggaran.

"Kualitas pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya biaya, tetapi juga oleh sistem pembelajaran, keteladanan, budaya belajar, dan nilai-nilai yang ditanamkan kepada peserta didik," ungkapnya.

Langkah penguatan ini didukung oleh terbentuknya Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama.

Direktur Pesantren Kemenag, Basnang Said, menilai pembentukan Ditjen Pesantren sebagai wujud pengakuan resmi negara atas kontribusi besar para ulama.

"Terbentuknya Direktorat Jenderal Pesantren merupakan bentuk pengakuan negara terhadap kontribusi besar pesantren dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Ini adalah hasil perjuangan panjang para ulama dan tokoh pesantren," kata Basnang.

Saat ini, Direktorat Jenderal Pesantren sedang menyusun peta jalan pengembangan institusi untuk jangka waktu 10 tahun ke depan.

Sementara itu, putri pendiri Nahdlatul Ulama, Hizbiyah Rochim Wahab, menyatakan bahwa KH Abdul Wahab Hasbullah merupakan teladan dalam membangun persatuan umat di tengah perbedaan.

"Beliau mengajarkan pentingnya membangun jembatan di atas perbedaan.

KH Abdul Wahab Hasbullah berhasil memadukan tradisi dan modernitas, agama dan nasionalisme, serta kepentingan elite dengan aspirasi masyarakat akar rumput," ujarnya.

Hizbiyah berharap nilai-nilai perjuangan tersebut dapat terus diwariskan kepada para santri selaku generasi muda penerus bangsa.

>>> Klarifikasi Sarwendah Usai Bahas Rp200 Juta dan Sosok 'Cong', Tegaskan Tak Menyebut Nama Ruben Onsu

Dukungan moral juga datang dari Ketua Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang, Mohammad Hasib Wahab Hasbullah, yang mengajak seluruh pesantren untuk tetap optimistis menghadapi tantangan zaman.