Cristian Chivu mengawali karier kepelatihannya di Inter Milan dengan penuh tantangan.

Meski akhirnya sukses membawa Nerazzurri meraih Scudetto dan Coppa Italia musim 2025/26, ia sempat dilanda kekhawatiran akan dipecat.

>>> Perbankan: Keamanan Faktor Utama Eksportir Tempatkan DHE

Kekhawatiran itu muncul setelah Inter menelan dua kekalahan beruntun dari Udinese dan Juventus. Sebelumnya, tim asuhannya sempat menang telak 5-0 atas Torino di laga perdana Serie A.

Dukungan Klub di Tengah Tekanan

Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, Chivu mengakui bahwa ia sempat merasa posisinya terancam.

"Untuk satu momen, saya merasa semuanya bisa berantakan," ujar pelatih berusia 45 tahun itu.

Namun, kekhawatiran itu sirna setelah melihat sikap klub. "Mereka justru langsung mendukung saya.

Saya hanya merasakan dukungan dan kedekatan," tambahnya.

>>> Telkom Bangun Pusat Data Kedua di Batam, Target Kapasitas 100 MW

Chivu juga memahami realitas sepak bola bahwa pelatih sering menjadi pihak pertama yang bertanggung jawab atas hasil buruk.

"Pelatih memang orang pertama yang membayar untuk semuanya. Entah adil atau tidak, begitulah adanya," katanya.

Penunjukan Chivu awalnya dipertanyakan karena minim pengalaman. Sebelum menangani Inter, ia hanya melatih Parma.

Namun, perlahan ia berhasil menemukan ritme dan konsistensi permainan tim.

>>> Tio Pakusadewo Dirawat di Rumah Sakit, Ini Biodata dan Perjalanan Karier Aktor Senior Indonesia

Hasilnya, Inter Milan sukses mengakhiri musim dengan gelar Scudetto dan trofi Coppa Italia. Kesuksesan itu sekaligus menjawab keraguan yang sempat menghantui awal karier Chivu di Giuseppe Meazza.