"Sebenarnya bukan area publik, tapi ini sebenarnya ini halaman rumah.

Kita sepakat di sini untuk dibuka itu memang sejak dari dulu, mungkin ya semasa kakek saya itu sudah ada kesepakatan.

Sudah ini jadi jalan bantuan," papar Joko.

Popularitas BTG melonjak tajam setelah foto dan konten video mengenai estetika gang kecil ini viral di media sosial.

>>> Investor Lepas Surat Utang Negara Akibat Rupiah Melemah Tajam

Sayangnya, lonjakan popularitas ini memicu kedatangan wisatawan mandiri yang sering kali kurang menjaga etika dibanding wisatawan yang menggunakan pemandu resmi.

"Kan kalau setiap rumah Jawa itu kan terdiri dari dua bagian yang sisi utara dan selatan, di tengah-tengahnya itu kan ada halaman.

Dan rumahnya itu kan selalu menghadap selatan sehingga kalau dibuka itu memang jadi desa jadi kayak gang kecil gitu kan seperti itu," imbuhnya.

Warga menegaskan bahwa pengetatan ini bukan ditujukan kepada wisatawan yang datang bersama agen travel atau pemandu wisata resmi.

Pemandu wisata umumnya selalu berkomunikasi terlebih dahulu dan memberikan edukasi tata tertib kepada rombongan mereka sebelum masuk.

"Itu sebenarnya kan jadi pemicu puncaknya di hari Minggu, tapi sebelum ada kejadian itu memang ada keluhan warga juga tentang para pengunjung yang memang attitude-nya kurang.

Nah, itu rata-rata mereka itu yang datang bermodalkan media sosial. Jadi bukan wisatawan dalam perjalanan yang betul-betul wisatawan," ujarnya.

Pihak pengelola sebenarnya telah memasang papan imbauan di sepanjang pintu masuk agar pengunjung menjaga kesopanan dan menghormati privasi penghuni rumah.

Namun, tingkat kesadaran membaca para pengunjung mandiri dinilai masih sangat rendah.

"Kami itu juga sudah berusaha untuk mengantisipasinya, misalnya kita bikin aturan, bikin papan-papan informasi di sepanjang pintu itu, tata aturan himbauan pada pengunjung untuk berlaku sopan.