Tekanan harga di Filipina mulai mereda.

Laju inflasi tahunan negara itu melambat pada Mei 2026, didorong oleh penurunan kenaikan harga kelompok pangan dan biaya transportasi.

>>> Saham BBCA Melemah ke Rp 5.425 Akibat Aksi Jual Asing

Berdasarkan data Badan Statistik Filipina yang dikutip Jumat (5/6/2026), inflasi tahunan indeks harga konsumen (IHK) tercatat 6,8% untuk Mei.

Angka ini turun dibandingkan inflasi April yang mencapai 7,2%.

Realisasi tersebut lebih rendah dari proyeksi pasar. Survei Reuters sebelumnya memperkirakan inflasi Filipina akan melonjak hingga 7,5% pada Mei.

Angka riil juga berada di bawah estimasi bank sentral Filipina. Otoritas moneter sebelumnya memproyeksikan inflasi Mei bergerak dalam rentang 7,1% hingga 7,9%.

Inflasi Inti Justru Naik

Meskipun inflasi umum melambat, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen bergejolak seperti makanan dan energi justru naik.

>>> Harga Perak Antam 5 Juni 2026 Melejit ke Rp 49.050 per Gram

Inflasi inti tercatat 4,1% pada Mei, naik dari 3,9% pada April.

Kenaikan ini mengindikasikan tekanan ekonomi di sektor luar pangan dan energi masih relatif kuat.

Sebelumnya, Bangko Sentral ng Pilipinas telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada April untuk mengendalikan stabilitas harga.

Akumulasi inflasi rata-rata Januari hingga Mei masih bertengger di 4,5%. Posisi ini masih di atas target tahunan bank sentral yang sebesar 2% hingga 4%.

>>> BPH Migas Perbarui QR Code MyPertamina Jadi Dinamis Cegah Pemalsuan

Pelaku pasar kini menanti rapat kebijakan moneter berikutnya yang dijadwalkan pada 18 Juni mendatang. Langkah bank sentral akan menjadi penentu dalam mengendalikan inflasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi Filipina.