Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) pada Jumat (5/6/2026) pagi.

Kurs rupiah bahkan menembus level Rp18.090 per dolar AS.

>>> Ilmuwan Berhasil Ungkap Penyebab Fundamental Sifat Unik Air

Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik.

Indeks dolar AS yang menguat, ketidakpastian geopolitik antara Washington dan Teheran, serta lonjakan harga minyak mentah menjadi pemicu utama.

Dari dalam negeri, defisit fiskal dan neraca transaksi berjalan yang memburuk turut menekan rupiah.

Data terbaru menunjukkan defisit Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I-2026 mencapai US$9,15 miliar, sementara transaksi berjalan berbalik defisit US$4 miliar.

Dampak ke Pasar Obligasi dan Regional

Depresiasi rupiah juga meluas ke pasar obligasi.

Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor pendek, seperti tenor 1 tahun, melonjak ke posisi 7,13% dan memicu inversi kurva yield.

>>> IHSG Amblas 1,7 Persen ke Level 5.839 Jelang Akhir Pekan

Tekanan serupa dialami mata uang Asia lainnya, termasuk won Korea Selatan dan ringgit Malaysia. Hal ini sejalan dengan sinyal pengetatan moneter lebih lanjut dari bank sentral AS.

Gubernur The Fed Bank of Dallas, Lorie Logan, menyatakan kekhawatirannya bahwa suku bunga yang lebih tinggi mungkin diperlukan pada akhir tahun ini.

Langkah ini dinilai perlu untuk memulihkan stabilitas harga dan menjaga keseimbangan mandat ganda The Fed.

Sentimen negatif investor asing terhadap Indonesia juga dipengaruhi oleh pandangan negatif terhadap rupiah.

Manajer Portofolio di Allspring Global Investment, Gary Tan, mengatakan investor masih khawatir mengenai ketidakseimbangan makroekonomi dan kredibilitas kebijakan fiskal.

Pelaku pasar saat ini mengantisipasi rilis data kinerja APBN terbaru oleh Kementerian Keuangan.

>>> Timnas Indonesia Hadapi Oman di FIFA Matchday Juni 2026

Secara teknikal, Mega Capital Sekuritas memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan tertahan di rentang Rp18.000 hingga Rp18.100 per dolar AS.