Apa yang diperlukan untuk meninggalkan dunia tanpa kesedihan, penyakit, atau patah hati — dan apakah surga semacam itu layak untuk ditinggali?

‘Pilgrims,’ film animasi Korea terbaru yang diadaptasi dari cerpen Kim Cho-yeop yang telah diterjemahkan luas, mengajukan pertanyaan meresahkan itu.

>>> Studio Anime Hunter x Hunter 1999 Ajukan Gugatan Hukum Pertama di AS atas Hak Cipta Chibi Maruko-chan

Film ini berpusat pada sekelompok anak muda yang meninggalkan planet utopia yang dirancang tanpa rasa sakit dan duka, lalu kembali ke Bumi yang cacat dan terluka.

Mereka menghadapi biaya emosional dan etis dari kehidupan tanpa penderitaan.

SF Korea yang Berfokus pada Relasi dan Etika

Dalam beberapa tahun terakhir, SF Korea — khususnya karya penulis perempuan seperti Kim — semakin dikenal karena menyoroti pertanyaan tentang kepedulian, keberbedaan, dan batas kemajuan.

Alih-alih berlomba menuju galaksi jauh atau merayakan penaklukan teknologi, karya-karya ini lebih menekankan relasi, tubuh yang rapuh, dan ambiguitas etis dari ‘perbaikan.’

Ini kontras dengan SF arus utama Barat yang dominan.

Film ini hadir dengan antisipasi besar.

Buku Kim, ‘If We Cannot Go at the Speed of Light,’ yang memuat cerpen asli, telah terjual ratusan ribu kopi di dalam negeri dan diterjemahkan ke lebih dari 10 bahasa.

Sesi kunjungan tamu yang menampilkan Kim dan para pemeran utama habis terjual.

Tim produksinya pun seperti daftar impian penggemar SF: sutradara Heo Pyong-kang, desainer karakter Wi Hyun-song, pengisi suara Kim Hyang-gi, Park Ji-hoo, dan Lee Joo-young, serta musisi Hwang So-yoon dari Se So Neon yang menciptakan skor melankolis.

Kelemahan dalam Akting Suara dan Visual