Pemerintah Indonesia tengah menjajaki kerja sama perdagangan bilateral dengan Filipina melalui skema barter.

Langkah ini diambil sebagai alternatif di tengah pelemahan nilai tukar mata uang kedua negara terhadap dolar AS.

>>> Rupiah Melemah ke Rp 18.049 Imbas Ketegangan AS-Iran

Rencana kesepakatan awal ditargetkan rampung melalui penandatanganan kontrak pada pertengahan Juni 2026. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso.

Mekanisme barter dipersiapkan untuk memastikan aktivitas perdagangan luar negeri antara Indonesia dan Filipina tetap berjalan lancar tanpa terhambat fluktuasi valuta asing.

"Kita ada alternatif misalnya pakai barter. Nanti tanggal 12 (Juni) kita ketemu dengan pengusaha Filipina," ujar Budi Santoso.

Inisiasi ini berawal dari diskusi dengan importir Filipina saat pertemuan The ASEAN Joint Foreign and Economic Ministers (AMM-AEM) di Cebu.

>>> Pembatasan PPh Final 0,5% Berpotensi Dongkrak Penerimaan Pajak

Kementerian Perdagangan kemudian mencari mitra lokal di dalam negeri yang kini telah siap merealisasikan kesepakatan dagang tersebut.

Rincian komoditas yang akan diperdagangkan baru akan dibuka saat penandatanganan kontrak.

Selain itu, Kementerian Perdagangan juga fokus memantau harga pangan dan ketersediaan pasokan bahan baku industri impor di pasar domestik.

"Terkait pasokan dan distribusi terus kita pantau agar kebutuhan industri dan masyarakat tetap memenuhi," ujar Budi Santoso.

>>> Prancis Jamu Pantai Gading dalam Uji Coba Jelang Piala Dunia 2026

Langkah ini diambil sebagai respons atas tekanan ekonomi global, termasuk pelemahan rupiah yang pada Kamis (4/6/2026) ditutup merosot 82 poin atau 0,45 persen ke posisi Rp 18.049 per dolar AS.