>>> Cal Crutchlow: Motor MotoGP Modern Makin Sulit Dikendarai

"Itu yang terjadi pada mobil VinFast VF 3 yang kayak jip kecil gitu loh. Ya, mobil-mobil sejenis ini kelihatannya nanti akan bermunculan kalau tidak diregulasi.

Ya, mumpung belum banyak, mestinya," kata Arwani.

Menurut dia, kemampuan pengisian daya minimal sekitar 30 kW hingga 40 kW dapat menjadi acuan agar waktu pengisian tetap masuk akal dan tidak terlalu membebani pengguna lain.

"Minimum ya kayak (BYD) Atto 1 lah, itu 30-40 kW. Itu pun kalau jumlahnya banyak banget, setengah jam nongkrongin itu ya lama, orang bete juga," ujarnya.

Arwani menilai persoalan ini perlu menjadi perhatian regulator sejak dini.

Pasalnya, pembangunan ekosistem kendaraan listrik tidak hanya berbicara soal insentif dan penjualan kendaraan, tetapi juga kesiapan infrastruktur dalam jangka panjang.

Ciptakan Ekosistem

"Nah ini yang perlu menjadi perhatian regulator.

Kalau kita mau menciptakan sistem ekosistem, ya mau menciptakan ekosistem, maka ekosistem mulai saat ini, sejak belum banyak ini, sudah diatur, sudah dikendalikan," kata Arwani.

Ia menambahkan, regulator perlu memiliki pandangan jangka panjang terkait perkembangan pasar kendaraan listrik, termasuk dampaknya terhadap kebutuhan pengisian daya publik di masa depan.

"Itu kan sudah imajinasi pembuat regulasi, sudah tahu kira-kira lima tahun ke depan seperti apa, 10 tahun ke depan seperti apa, 15 tahun, 20 tahun," ujarnya.

Menurut Arwani, upaya menarik minat masyarakat membeli mobil listrik melalui harga yang lebih terjangkau memang penting.

Namun, aspek teknis kendaraan juga perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan persoalan baru ketika populasi kendaraan listrik meningkat signifikan.

>>> Daftar Harga LMPV Juni 2026: Sejumlah Pabrikan Lakukan Penyesuaian

"Hanya karena sekarang misalnya menarik orang untuk membeli EV, kemudian ada yang ngasih harga murah. Nah, itu nanti akan menjadi masalah di masa depan," kata Arwani.