PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) tengah bersiap menghadapi potensi kenaikan risiko kredit atau loan at risk (LAR).

Langkah ini diambil setelah adanya kebijakan kenaikan suku bunga acuan yang kini berada di level 5,25 persen.

>>> Gaji ke-13 Pensiunan 2026 Cair Cepat, TASPEN: 99 Persen Langsung Masuk Rekening

Kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin tersebut menjadi perhatian serius bagi manajemen bank spesialis perumahan ini.

Meski demikian, BTN memastikan bahwa kualitas aset mereka hingga saat ini masih dalam kondisi yang cukup aman dan terkendali.

Tren Kualitas Kredit dan Tantangan Suku Bunga

Setiyo Wibowo selaku Direktur Risk Management BTN menjelaskan bahwa posisi LAR perusahaan sebenarnya menunjukkan tren positif.

Pada kuartal pertama tahun 2026, rasio LAR tercatat berada di angka 19,6 persen.

Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 70 basis poin jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sebagai informasi, pada kuartal pertama tahun 2025, rasio LAR BTN masih berada di level 20,3 persen.

Walaupun angka risiko menunjukkan penurunan, Setiyo menilai antisipasi terhadap gejolak suku bunga tetap menjadi prioritas utama.

Hal ini dikarenakan perubahan bunga dapat memengaruhi arus kas para debitur dalam memenuhi kewajibannya.

Menurut Setiyo, segmen debitur tertentu sangat sensitif terhadap perubahan beban bunga bulanan mereka. Dampak langsungnya terlihat pada penurunan kemampuan bayar bagi kelompok masyarakat yang arus kasnya terbatas.

"Kenaikan suku bunga memang dapat memengaruhi kemampuan bayar sebagian debitur, khususnya pada segmen yang lebih sensitif terhadap perubahan cash flow," jelas Setiyo Wibowo.

Namun, ia menegaskan bahwa secara keseluruhan portofolio kredit BTN masih menunjukkan performa yang cukup solid.