Klasifikasi IGRS di Steam Tuai Protes, Gamer Temukan Kejanggalan
Penerapan sistem rating lokal Indonesia Game Rating System (IGRS) di Steam sejak awal 2026 memicu protes dari komunitas gamer dan pengembang game.
Banyak ditemukan kejanggalan dalam klasifikasi usia yang dinilai tidak akurat.
>>> Kejagung Ungkap Modus Korupsi MBG 2026: Mark Up dan Yayasan Terafiliasi
Anomali Klasifikasi Usia
Sejak Maret 2026, Valve mewajibkan pengembang game mengisi Steam Content Survey sebelum merilis game di Indonesia. Kategori usia meliputi 3+, 7+, 13+, 15+, 18+, dan Refused Classification (RC).
Namun, banyak game populer mendapat label yang tidak masuk akal. Contohnya, Nukitashi yang mengandung konten eksplisit justru diberi label 3+.
Sebaliknya, game lokal A Space for the Unbound mendapat rating 18+ tanpa alasan jelas.
Beberapa game besar dengan rating aneh antara lain: PUBG: Battlegrounds mendapat rating 3+ meskipun game pertempuran; Dota 2 dikategorikan 18+ karena dianggap mengandung horor dan zat adiktif; Balatro mendapat label 3+ tanpa rincian konten; Umamusume: Pretty Derby diberi rating 18+ karena dituding mengandung unsur perjudian.
Ancaman Pemblokiran GTA V
Status RC atau Refused Classification muncul pada beberapa judul populer, termasuk Grand Theft Auto V (GTA V).
>>> Momen Mocca di Stage Bus Java Jazz Festival 2026 yang Paling Dicari Penonton
Meski masih bisa dibeli, status ini menimbulkan spekulasi pemblokiran di masa depan. Girls' Frontline juga dilaporkan mengalami kendala serupa.
CEO Toge Productions, Kris Antoni, menyuarakan keberatan atas ironi sistem yang membatasi game berkualitas sementara game dewasa dibiarkan bebas.
Pengamat menilai IGRS masih jauh dari standar global seperti ESRB atau PEGI.
Kelemahan diduga berasal dari sistem otomatis pada Steam Content Survey yang tidak mampu menangkap konteks konten secara mendalam.
Kurangnya verifikasi manual dari otoritas terkait juga menjadi penyebab rating menyesatkan.
>>> Sinopsis The Doll Malam Ini: Teror Boneka Ghawiah yang Paling Banyak Dicari 2026
Komunitas dan pelaku industri mendesak Kementerian Komunikasi dan Digital untuk mengevaluasi IGRS secara menyeluruh. Diperlukan transparansi metodologi, sinkronisasi dengan standar internasional, dan tim verifikasi manusia untuk meninjau anomali.
Update Terbaru
Game Boy Pocket Berusia 30 Tahun, Warisannya Masih Terasa di Genggaman Modern
Rabu / 22-07-2026, 03:28 WIB
Ratusan Pemain Old School RuneScape Jadi Biksu dan Picu Perang Suci
Rabu / 22-07-2026, 03:28 WIB
Mushoku Tensei III Episode 1-4: Kisah Eris dan Kebahagiaan Rudeus
Rabu / 22-07-2026, 03:28 WIB
Manga Heisei Haizan-hei ☆ Sumire-chan Hiatus karena Cuti Melahirkan
Rabu / 22-07-2026, 03:24 WIB
Wamen Irene Dorong Tenun Sumba Barat Daya Naik Kelas Lewat Storytelling
Rabu / 22-07-2026, 03:24 WIB
PTPN I Fokus pada Lima Pilar untuk Transformasi Agroindustri
Rabu / 22-07-2026, 03:24 WIB
Google Perkenalkan Koleksi untuk Atasi Notebook Gemini yang Berantakan
Rabu / 22-07-2026, 03:22 WIB
Moto G Play (2024) Kini Hanya $100, Ponsel Budget Terbaik
Rabu / 22-07-2026, 03:21 WIB
Nashville Gelar Konferensi Keamanan Kota untuk Pemimpin Penegak Hukum
Rabu / 22-07-2026, 03:21 WIB
Indonesia Terbitkan Panda Bonds Senilai 1 Miliar Dolar AS
Rabu / 22-07-2026, 03:21 WIB
Mertua Joseph Duggar Akan Diperiksa dalam Kasus Pelecehan Anak
Rabu / 22-07-2026, 03:21 WIB
Melania Trump Minta Sanksi untuk Jurnalis Michael Wolff
Rabu / 22-07-2026, 03:21 WIB
Carole Radziwill Bantah Terlibat Kasus Epstein di RHONY
Rabu / 22-07-2026, 03:21 WIB
Putra Claude Lemieux Ungkap Legenda NHL Kambuh Kecanduan Seks
Rabu / 22-07-2026, 03:19 WIB







