Volume perdagangan di paruh pertama hari ini tercatat sangat tinggi. Total saham yang berpindah tangan mencapai 26,375 miliar lembar dengan nilai transaksi Rp14,891 triliun.

Tingginya aktivitas juga terlihat dari frekuensi transaksi sebanyak 1.798.806 kali. Mayoritas pelaku pasar tampaknya memilih melepas aset di tengah ketidakpastian ekonomi.

Statistik pergerakan saham menunjukkan dominasi yang sangat timpang:

  • 714 emiten mengalami pelemahan harga.
  • Hanya 35 saham mampu bertahan di zona hijau.
  • 64 saham stagnan atau tidak berubah harga.
  • Kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp10.357,197 triliun.

Jumlah saham yang anjlok jauh melampaui saham yang naik. Hal ini berakibat langsung pada terkikisnya nilai kapitalisasi pasar modal secara keseluruhan.

Dampak terhadap Ekonomi

Anjloknya IHSG hingga meninggalkan level 6.000 menjadi sinyal waspada bagi dunia usaha dan investasi.

Kondisi ini terjadi bersamaan dengan melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang kini menembus Rp17.897.

Banyak pengamat mulai membandingkan situasi ini dengan krisis moneter masa lalu. Pemerintah dan otoritas bursa diharapkan segera mengambil langkah strategis untuk menstabilkan pasar.

Harga emas Antam terpantau stagnan di Rp2,774 juta per gram. Seluruh instrumen investasi tampaknya sedang mencari titik keseimbangan baru di tengah dinamika global yang tidak menentu.

>>> Kronologi Mahasiswa PNJ Kepergok Berciuman dengan Pria di Area Kampus

Para investor kini menunggu pembukaan sesi kedua untuk melihat apakah ada aksi beli balik. Ketahanan mental pelaku pasar benar-benar diuji dalam menghadapi volatilitas ekstrem seperti hari ini.