"Diskusi tentang kecantikan harus mencakup keamanan, kesehatan kulit, serta manfaat jangka panjang bagi individu," tegas dr. Aji.

Pada akhirnya, di era di mana AI bisa menciptakan visual sempurna, nilai kemanusiaan justru menjadi kemewahan baru.

Kecantikan tidak lagi didefinisikan oleh algoritma, melainkan oleh rasa nyaman seseorang terhadap dirinya sendiri.

Selama beberapa dekade, standar kecantikan global dipengaruhi media massa dan budaya populer. Hadirnya media sosial dan AI telah mendemokratisasi sekaligus mendistorsi citra tubuh manusia.

Jika di masa lalu standar kecantikan bersifat top-down dari industri, kini terjadi gerakan bottom-up di mana individu lebih menghargai keaslian.

Fenomena ini menjadi penanda bahwa masyarakat modern mulai sadar akan dampak psikologis dari standar visual yang tidak realistis.

>>> Umat Islam Dianjurkan Puasa Tasua dan Asyura di Bulan Muharram

Pergeseran ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan bentuk adaptasi manusia dalam menjaga identitas diri di tengah gempuran teknologi yang terus berubah.