Setibanya di sana, Umar ibn Dzar merasa sungkan memberikan jawaban di hadapan Abu Hanifah. Menyadari keadaan itu, Abu Hanifah mendekat lalu membisikkan jawaban yang seharusnya disampaikan. Umar ibn Dzar kemudian menyampaikan penjelasan tersebut kepada ibunya.

Sang ibu pun merasa tenang dan menerima jawaban itu dengan lapang hati. Bagi Abu Hanifah, kebahagiaan melihat ibunya ridha jauh lebih penting daripada menjaga kedudukan atau wibawa dirinya sebagai ulama besar.

Tidak Menunda Perintah Ibu

Kisah lain yang disampaikan dalam khutbah terjadi saat Imam Abu Hanifah sedang mengajar para muridnya. Di tengah pelajaran, ibunya memanggil dan meminta agar ayam-ayam di rumah diberi makan.

Tanpa menunda, beliau menutup kitab yang sedang dipelajari lalu berdiri meninggalkan majelis. Beberapa murid merasa heran karena pelajaran sedang berlangsung.

Saat salah seorang murid bertanya mengapa tugas tersebut tidak ditunda, Abu Hanifah menjawab bahwa ilmu tidak akan mendapatkan keberkahan jika dirinya menangguhkan perintah sang ibu.

Ia kemudian pulang, memberi makan ayam-ayam tersebut dengan tangannya sendiri, lalu kembali mengajar seperti biasa.

Kunci Keberkahan Hidup

Di hadapan para muridnya, Imam Abu Hanifah pernah menjelaskan bahwa kedudukan yang ia capai bukan semata-mata karena banyaknya hafalan atau luasnya ilmu yang dimiliki.

Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari baktinya kepada sang ibu. Dari kisah itu, jamaah diajak memahami bahwa ilmu dapat menghadirkan penghormatan dari manusia, sedangkan adab kepada orang tua menjadi jalan memperoleh ridha Allah SWT.