Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang akan dimulai Juni mendatang diproyeksikan membawa dampak ekonomi besar bagi Amerika Serikat.

Ajang sepak bola ini diharapkan menjadi angin segar di tengah tantangan inflasi dan daya beli masyarakat yang lesu.

>>> Harga Batu Bara Tembus Level Tertinggi, Harga Emas Justru Anjlok Mengejutkan

Berdasarkan data FIFA, kehadiran jutaan suporter dari seluruh dunia diperkirakan akan mengalirkan dana besar ke sektor jasa.

Wisatawan mancanegara diprediksi membelanjakan uang untuk akomodasi, kuliner, dan hiburan selama turnamen.

Proyeksi dan Distribusi Keuntungan

Total kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) AS diperkirakan mencapai US$ 17 miliar atau setara Rp 303,42 triliun.

Angka ini menggunakan asumsi kurs Rp 17.850 per dolar AS.

Namun, kontribusi tersebut kurang dari 0,1% dari total PDB tahunan AS.

Saxo Bank dalam laporannya menyebut nilai itu hanya porsi kecil dari output ekonomi AS yang sangat masif.

Biaya operasional dan persiapan turnamen diestimasi mencapai US$ 11 miliar atau Rp 196,33 triliun.

Sebagian besar pendapatan utama dari tiket, merchandise, dan hak siar langsung mengalir ke FIFA.

Victor Matheson, ekonom dari College of the Holy Cross, menjelaskan bahwa perputaran uang tidak akan bertahan lama di kota tuan rumah.

>>> Profil Agustina Arumsari, Wakil Kepala BGN Baru Eks Wakil Kepala BPKP

Dana penonton untuk tiket dan merchandise resmi langsung masuk ke rekening FIFA.

Harga tiket yang melambung tinggi, beberapa kursi dibanderol lebih dari US$ 1.000 atau Rp 17,84 juta, menuai kritik.

Hal ini dianggap mengurangi daya beli untuk berbelanja di bisnis lokal sekitar stadion.

Dampak bagi Kota Tuan Rumah