Nilai tukar rupiah kembali mencatat pelemahan pada penutupan perdagangan Selasa (2/6) sore.

Mata uang Garuda turun 0,19 persen atau 34 poin ke level Rp17.839 per dolar AS.

>>> Ahli Ungkap Kebiasaan Malam yang Bikin Hati Rusak, Ternyata Mengejutkan!

Pelemahan ini sejalan dengan tren mayoritas mata uang di kawasan Asia. Yen Jepang melemah 0,04 persen, sementara won Korea Selatan turun lebih dalam 0,29 persen.

Namun, beberapa mata uang Asia justru menguat.

Yuan China naik 0,07 persen, peso Filipina terapresiasi 0,10 persen, dan dolar Singapura juga menguat 0,07 persen.

Faktor Pemicu Pelemahan

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menyebut dominasi indeks dolar AS masih menjadi beban utama bagi rupiah. Faktor eksternal seperti kebijakan perdagangan AS dan situasi Timur Tengah turut mempengaruhi.

Pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait negosiasi dengan Iran memicu ketidakpastian pasar. Kebijakan tarif impor terbaru dari Gedung Putih juga meningkatkan risiko geopolitik global.

>>> Duet Messi dan Timothée Chalamet di Film Backyard Legends Sambut Piala Dunia 2026

Dari dalam negeri, beberapa data ekonomi menjadi perhatian. Inflasi Indonesia pada Mei 2026 tercatat 3,08 persen secara tahunan.

Aktivitas manufaktur nasional (PMI) kembali ekspansif di level 50,0. Surplus neraca perdagangan Indonesia masih berlanjut hingga April 2026.

Namun, kenaikan biaya bahan baku mulai membayangi produktivitas sektor industri.

Meskipun data domestik positif, tantangan pasokan global menahan laju pertumbuhan. Investor cenderung waspada terhadap aset pasar negara berkembang.

Proyeksi Rupiah Besok

Ibrahim memprediksi pergerakan rupiah pada Rabu (3/6) masih akan fluktuatif. Tekanan terhadap mata uang lokal diperkirakan belum mereda.

>>> Mengejutkan, Bek Liverpool Ini Pilih Bertahan di Anfield Usai Arne Slot Dipecat 2026

Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak di rentang Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS sepanjang hari esok.