Pihak Sarwendah menjelaskan bahwa pengaturan jadwal anak terkadang bertabrakan dengan agenda pendidikan atau les.

>>> Pemuda Tulungagung 25 Tahun Resmi Menikahi Lansia 63 Tahun

Jika Ruben ingin bertemu saat anak sedang berkegiatan, hal tersebut seharusnya bisa dikomunikasikan dengan baik tanpa merusak rutinitas anak.

Persoalan Aset dan Utang Bank

Masalah pembagian harta bersama juga menjadi poin krusial yang diklarifikasi oleh tim hukum Sarwendah dalam pertemuan tersebut.

Chris menyebutkan bahwa kliennya merasa dirugikan terkait salah satu aset properti yang diberikan oleh pihak Ruben.

Beberapa poin keberatan pihak Sarwendah terkait pembagian aset adalah sebagai berikut:

  • Rumah yang diberikan ternyata masih berstatus sebagai jaminan di bank dengan nilai utang yang sangat besar.
  • Ruben Onsu merupakan pihak yang mengajukan pinjaman tersebut ke bank sebelumnya.
  • Awalnya disepakati bahwa pelunasan menjadi tanggung jawab Ruben, namun terjadi perubahan kesepakatan secara mendadak.
  • Terdapat permintaan agar uang yang sudah dibayarkan Ruben ke bank dikembalikan lagi oleh Sarwendah.

Pihak Sarwendah merasa terpojok ketika di menit terakhir mereka diminta untuk melunasi seluruh sisa cicilan tersebut secara mandiri.

Hal inilah yang memicu ketegangan baru di antara kedua belah pihak terkait urusan finansial pasca-perceraian.

Tanggapan dari Pihak Ruben Onsu

Di sisi lain, pihak Ruben Onsu melalui pengacaranya, Minola Sebayang, mengungkapkan alasan mengapa Ruben memutuskan untuk tidak mengirim nafkah selama enam bulan terakhir.

Tindakan ini merupakan bentuk protes karena Ruben merasa dibatasi untuk bertemu dengan anak kandungnya.

Minola juga menyoroti kehadiran sosok Giorgio Antonio, pria yang dikabarkan dekat dengan Sarwendah, dalam lingkungan anak-anak.

Ia merasa ironis karena orang yang tidak memiliki hubungan darah justru terlihat lebih leluasa berinteraksi dengan anak-anak dibandingkan ayah kandungnya sendiri.

Pihak Ruben khawatir jika kurangnya interaksi antara ayah dan anak akan membuat hubungan mereka menjadi renggang atau terasa asing.

Mereka menegaskan bahwa masalah ini murni tentang hak asuh dan kedekatan emosional, bukan karena rasa cemburu.

Situasi ini semakin pelik karena adanya perbedaan persepsi mengenai cara mendidik dan memberikan akses kepada orang tua.

>>> DUPER: Social War Game 2026, Perpaduan Diplomasi dan Strategi Real-Time

Ruben berharap ia tetap bisa mendapatkan porsi waktu yang adil sebagai ayah kandung sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.