Tren Dedolarisasi 2026: Investor Super Kaya Tarik Dana Besar dari AS
Selama beberapa dekade, Amerika Serikat menjadi tujuan utama investor global. Kestabilan ekonomi dan dominasi dolar membuat pasar AS selalu menarik.
Namun, dinamika global mulai mengubah pandangan para super kaya. Laporan UBS mengungkap pergeseran besar dalam strategi portofolio family office.
>>> Promo Baju Anak Transmart Full Day Sale 2026, Mulai Rp75 Ribu
Faktor Pemicu Dedolarisasi
Ketidakpastian geopolitik menjadi pendorong utama. Konflik antarwilayah dan ketegangan perdagangan membuat investor lebih waspada.
John Mathews, Head of Private Wealth Management UBS untuk Amerika, menyebut fokus kekhawatiran bergeser dari tarif ke konflik geopolitik, utang global, dan suku bunga jangka panjang.
Akibatnya, investor mulai mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Lebih dari seperempat family office berencana memangkas aset berdenominasi dolar.
Strategi Diversifikasi Lintas Negara
Investor super kaya menerapkan diversifikasi yurisdiksi. Mereka menempatkan aset di berbagai negara untuk meredam gejolak.
Sekitar 66% investor memiliki aset di tiga yurisdiksi: AS, Eropa, dan Timur Tengah. Sebanyak 33% lainnya memiliki empat yurisdiksi atau lebih, termasuk Asia dan Amerika Latin.
>>> Viral Video UFO Terdampar di Madura Ternyata Promosi Film
Mata uang alternatif seperti franc Swiss, euro, dan mata uang emerging market mulai dilirik. Hampir separuh responden merasa portofolio mereka terlalu terpapar dolar AS.
Daya Tarik Pasar Berkembang dan Aset Lindung Nilai
Meski mengurangi eksposur AS, investor tidak meninggalkan pasar global. Mereka beralih ke emerging market yang menawarkan pertumbuhan tinggi.
Emas dan infrastruktur kembali menjadi primadona. Emas dianggap sebagai lindung nilai inflasi, sementara infrastruktur memberikan arus kas stabil.
Risiko utama yang diwaspadai meliputi ketegangan geopolitik, hiperinflasi, krisis utang, dan serangan siber. Investor kini fokus pada keberlanjutan kekayaan jangka panjang.
>>> Cara Cek Desil Bansos 2026: Kriteria Terbaru Agar Dana Cair
Dominasi dolar AS mungkin tidak akan runtuh seketika. Namun, pergerakan family office ini menandakan reorientasi peta kekuatan ekonomi global.
Update Terbaru
Harga Tiket Piala AFF 2026: Indonesia vs Vietnam Lebih Mahal
Jumat / 17-07-2026, 11:03 WIB
Bos Agrinas Jamin Warung Kecil Untung Berkat Kopdes Merah Putih
Jumat / 17-07-2026, 11:02 WIB
Tantang Merek Elektronik Jepang dan China, Acerpure Siap Bangun Anak Perusahaan di Indonesia
Jumat / 17-07-2026, 11:02 WIB
SMB Holdings Gandeng Kreator Indonesia dan Korea Kembangkan Webtoon Global
Jumat / 17-07-2026, 11:00 WIB
Daftar Negara dengan Tingkat Stres Kerja Tertinggi di ASEAN 2026
Jumat / 17-07-2026, 11:00 WIB
Ekspor Album K-pop Tembus Rp4,6 Triliun di Paruh Pertama 2026
Jumat / 17-07-2026, 11:00 WIB
5 Rekomendasi Sepatu Jalan Nyaman untuk Sehari-hari, Ringan dan Empuk
Jumat / 17-07-2026, 11:00 WIB
Cara Cek Sepatu New Balance 530 Ori, Kenali Bedanya dengan yang KW
Jumat / 17-07-2026, 11:00 WIB
Panduan Memilih Ukuran Sepatu US dan UK untuk Kaki Orang Indonesia agar Tidak Salah Beli
Jumat / 17-07-2026, 11:00 WIB
Yamaha Kembangkan Motor 'Berakal' MOTOROiD:Λ, Desainnya Mirip Kendaraan Antariksa
Jumat / 17-07-2026, 11:00 WIB
Pipa Air Berusia Seabad Pecah, Lalu Lintas di West Hollywood Terganggu
Jumat / 17-07-2026, 10:56 WIB
Sonam Wangchuk Bertahan di Aksi Mogok Makan, Desak Menteri Pendidikan Mundur
Jumat / 17-07-2026, 10:56 WIB
Valvoline Resmi Jadi Official Supporter FIFA World Cup 2026, Rayakan 160 Tahun
Jumat / 17-07-2026, 10:54 WIB
Hindia Raih Special Award di MUSIC AWARDS JAPAN 2026, Silet Open Up Masuk Nominasi
Jumat / 17-07-2026, 10:54 WIB







