Hal itu mencakup cara berbicara, bergaul, berpakaian, hingga berinteraksi di ruang publik maupun media sosial. Sikap yang selaras dengan nilai kepantasan akan membantu seseorang menjaga kehormatan diri dan keluarganya.

Khutbah menegaskan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi pribadi yang membawa kebaikan dalam kehidupan sosial, bukan sebaliknya.

Perjuangan Memperbaiki Diri

Bagian berikutnya menyoroti pentingnya muhasabah dan pengendalian diri. Setiap manusia memiliki kecenderungan menuju kebaikan maupun keburukan.

Allah SWT berfirman:

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”

Khutbah mengingatkan bahwa salah satu penghalang terbesar dalam memperbaiki akhlak adalah perasaan paling benar. Karena itu, setiap Muslim dianjurkan terus mengevaluasi diri dan tidak menutup mata terhadap kekurangan yang dimiliki.

Ilmu yang tinggi tanpa adab disebut tidak akan memberikan manfaat yang sempurna. Sebaliknya, seseorang yang menjaga akhlaknya akan memperoleh penghormatan dari sesama manusia serta mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT.

Pesan Penutup untuk Jamaah

Pada khutbah kedua, jamaah kembali diajak menjadikan adab sebagai bagian utama dalam kehidupan. Kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari garis keturunan, melainkan dari akal dan perilaku yang dimiliki.

Memperbaiki diri dan mendidik keluarga dipandang sebagai perjuangan yang berlangsung sepanjang hayat. Setiap Muslim diharapkan terus membenahi cara berbicara, bersikap, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Khutbah ditutup dengan doa agar kaum Muslimin diberikan taufik untuk menghiasi diri dengan akhlak mulia serta memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.