Mikel Arteta, manajer Arsenal, meluapkan kemarahan setelah timnya kalah dari Paris Saint-Germain (PSG) di final Liga Champions 2025-2026.

Pertandingan yang berlangsung di Puskas Arena, Budapest, pada Sabtu (30/5/2026) berakhir dengan skor 1-1 dan kemenangan PSG melalui adu penalti 4-3.

>>> Jadwal F1 GP Australia 2026: Norris Siap Dominasi, Verstappen Kritik Regulasi Baru

Arteta menilai Arsenal seharusnya mendapatkan hadiah penalti pada laga tersebut. Ia menyoroti standar ganda wasit Daniel Siebert asal Jerman dalam memimpin pertandingan.

Kontroversi Penalti di Puskas Arena

Arsenal unggul lebih dulu lewat gol cepat Kai Havertz pada menit keenam. Namun, PSG menyamakan kedudukan melalui penalti Ousmane Dembele pada menit ke-65 yang memicu perdebatan.

Wasit Siebert menunjuk titik putih setelah bek Arsenal, Cristhian Mosquera, dinilai melanggar winger PSG, Khvicha Kvaratskhelia.

Di sisi lain, pemain Arsenal Noni Madueke dijatuhkan oleh bek PSG Nuno Mendes, tetapi wasit tidak memberikan penalti.

>>> 8 Pakan Ayam Fermentasi Terbaik 2026, Efektif Hilangkan Bau Kotoran

Arteta mengatakan setelah melihat rekaman ulang, insiden Madueke seharusnya berbuah penalti. Ia menyayangkan konsistensi wasit dalam mengambil keputusan di momen penting.

Kritik Pedas Samir Nasri

Legenda Arsenal, Samir Nasri, sepakat dengan Arteta bahwa pelanggaran terhadap Madueke layak penalti. Ia yakin VAR tidak akan membatalkan keputusan jika wasit berani meniup peluit.

Nasri menduga wasit Siebert secara tidak langsung mencoba menghukum Arsenal di babak kedua. Hal ini dipicu oleh anggapan bahwa pemain Arsenal banyak membuang waktu pada paruh pertama.

Strategi pertahanan blok rendah Arsenal memang membuat frustrasi lini serang PSG. Namun, menurut Nasri, taktik itu membuat wasit tidak senang dan merugikan Arsenal lewat keputusannya.

>>> Ribuan Umat Buddha Peringati Detik-Detik Waisak 2570 BE di Borobudur

Hasil ini memastikan PSG meraih gelar juara Liga Champions untuk kedua kalinya secara beruntun. Arsenal harus pulang dengan rasa kecewa akibat performa perangkat pertandingan yang dianggap tidak adil.