Kekalahan Arsenal dari Paris Saint-Germain (PSG) di final Liga Champions diiringi kerusuhan di Paris. Lebih dari 130 suporter ditangkap kepolisian setempat.

Pertandingan di Puskas Arena pada Sabtu, 30 Mei 2026, berakhir dengan skor 1-1 setelah perpanjangan waktu. PSG menang 4-3 dalam adu penalti.

>>> Meksiko vs Australia: Uji Coba Piala Dunia di Rose Bowl

Arsenal sempat unggul lewat gol Kai Havertz pada menit keenam. Ousmane Dembele menyamakan kedudukan melalui penalti di menit ke-65.

Seusai laga, euforia pendukung PSG berubah menjadi bentrokan dengan aparat. Kericuhan terjadi di beberapa lokasi, termasuk di dekat Parc des Princes tempat 40 ribu orang menonton bareng.

Kelompok suporter melemparkan kembang api ke arah petugas. Polisi membalas dengan tembakan gas air mata.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez mengatakan pemerintah telah mengantisipasi potensi kekerasan. Sekitar 22 ribu personel polisi dikerahkan di seluruh ibu kota.

"Ada sistem pengamanan yang sangat kuat dan sangat solid untuk membatasi kekerasan," ujar Laurent Nuñez.

Kepolisian Paris mengonfirmasi kerusakan pada sedikitnya enam kendaraan dan dua bangunan toko. Mereka menegaskan komitmen keamanan.

"Tanggung jawab kami adalah menjamin semua orang dapat merayakan secara meriah, tenang, dan aman sepenuhnya," tegas juru bicara kepolisian Paris.

Manajer Arsenal Mikel Arteta mengungkapkan kekecewaan mendalam. Timnya gagal membawa pulang trofi Liga Champions pertama sepanjang sejarah klub.

"Kami akan mulai membuat sejumlah keputusan yang sangat penting jika ingin mencapai level yang lebih tinggi.

Kami harus menunjukkan ambisi karena kami mampu melakukannya," ucap Arteta dikutip dari ESPN.

>>> San Antonio Spurs Lolos ke Final NBA Usai Tekuk Oklahoma City Thunder