Pancasila telah teruji sebagai "bintang penuntun" yang kokoh di tengah badai ketidakpastian dunia. Meski Indonesia terdiri dari 17.000 pulau dan ratusan etnis, kita tetap bersatu berkat Pancasila.

Ideologi ini juga berfungsi sebagai "jangkar moral" dalam menghadapi guncangan global, termasuk disrupsi teknologi dan pergeseran politik dunia.

Saudara-saudara sekalian, posisi Indonesia di panggung internasional bukan sekadar penonton pasif. Kita memiliki mandat konstitusional untuk ikut serta dalam ketertiban dunia berdasarkan keadilan dan perdamaian.

Pancasila menjadi fondasi kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif. Prinsip musyawarah mufakat adalah alat diplomasi berharga untuk meredam konflik dan menyelaraskan perbedaan.

Kontribusi nyata ditunjukkan melalui keterlibatan pasukan perdamaian PBB.

>>> Lanjutkan Turing ke Eropa, Pria Ini Geber Yamaha XMax 11 Ribu Km dari Makkah

Peran Indonesia dalam mediasi konflik regional dan pembelaan bangsa terjajah adalah bukti pengamalan sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Kita ingin menunjukkan bahwa perdamaian sejati bukan hanya tidak adanya peperangan, tetapi ketika keadilan dirasakan seluruh umat manusia.

Kemajuan ekonomi dan teknologi tanpa kendali moral bisa membawa ke arah yang salah. Saya mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda, untuk menjadikan Pancasila sebagai living ideology.

Jangan sampai nilai-nilai luhur ini hanya menjadi tulisan di buku sejarah atau pajangan di dinding. Pancasila harus dipraktikkan dalam tindakan sehari-hari.

Saya menitipkan pesan kepada para Menteri dan Kepala Daerah untuk memegang teguh Pancasila dalam setiap keputusan. Pastikan kebijakan publik berlandaskan keadilan sosial dan menjangkau kelompok yang membutuhkan.

Tidak boleh ada rakyat yang merasa ditinggalkan negara. Kita juga harus waspada terhadap radikalisme dan intoleransi yang memecah belah.