>>> Virgoun Minta Maaf ke Mantan Suami Lindi Terkait Ucapan Eva Manurung

"Aku kehilangan, tapi tidak ingin larut dalam kesedihan. Setelah diizinkan dokter untuk lanjut ikut HYROX, besoknya aku langsung jogging.

Bukan karena aku kuat, tapi mungkin karena aku enggak tahu harus melampiaskan rasa sakit ini ke mana," jelas Greysia.

Selama masa persiapan yang hanya berlangsung tiga hari hingga kompetisi berjalan, ia mengaku masih terus mengalami pendarahan fisik.

"Persiapan HYROX cuma 3 hari, itu pun aku jalani sambil terus pendarahan. 16 Mei, HYROX Incheon dimulai.

Dan selama kompetisi berlangsung, aku masih mengalami pendarahan. Perut rasanya diputar-putar.

Tenaga enggak ada. Aku bahkan muntah di run pertama karena tubuhku enggak kuat," ujar Greysia.

Greysia berhasil mencapai garis finis dan mengakui bahwa proses tersebut menguatkan kondisi mentalnya secara personal.

"Meski hati belum pulih sepenuhnya, secara mental aku justru jadi sangat kuat. Aku merasa seperti, 'Nothing in this world can break me down'.

Karena setiap hari, Tuhan kasih damai, Tuhan kasih sukacita. Walaupun aku sedang berduka," tuturnya.

Bagi Greysia, keguguran memberikan tekanan emosional yang tidak stabil karena hilangnya rencana dan harapan yang telah disusun.

"Keguguran itu bukan hanya sekadar kehilangan janin. Ada harapan, ada rencana, dan ada emosi naik-turun setiap hari yang bahkan sulit untuk menjelaskan," ungkap Greysia.

"Dan itu semua valid. Tapi aku belajar, HIDUP INI BUKAN MILIK KITA.

>>> Taylor Swift Hadiahi Gitar Bertanda Tangan untuk Penggemar Cilik

Tuhan yang kasih kehidupan, Tuhan juga yang mengizinkan itu pergi. Walaupun sakit, aku tetap mau belajar mengucap rasa syukur, untuk setiap hal yang masih aku miliki," sambungnya.