Khutbah Jumat 29 Mei 2026 tentang Makna Kurban Idul Adha
 

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ فَضَّلَ بَعْضَ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِيْ، وَجَعَلَ فِيْهَا مَوَاسِمَ لِلطَّاعَةِ وَالْقُرْبَاتِ، نَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَاتِ وَالْبَاطِنَاتِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Kita bersyukur masih dipertemukan dengan hari-hari mulia di bulan Zulhijah. Bulan ini mengingatkan umat Islam pada ibadah haji, hari raya Idul Adha, serta amalan kurban yang menjadi syiar besar dalam Islam.

Pada hari-hari Tasyrik ini, umat Islam yang diberi kelapangan rezeki dianjurkan menyembelih hewan kurban. Ibadah tersebut bukan semata perkara daging atau penyembelihan, melainkan bentuk penghambaan dan kepatuhan kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kautsar ayat 1-2:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ۝ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa kurban berkaitan erat dengan rasa syukur. Orang yang berkurban sedang belajar menyerahkan sebagian hartanya demi menjalankan perintah Allah SWT.

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi pelajaran besar tentang ketundukan kepada Allah. Nabi Ibrahim menerima perintah yang sangat berat melalui mimpi, yakni menyembelih putranya sendiri. Namun perintah itu dijalankan tanpa keraguan.

Nabi Ismail AS pun menerima keputusan tersebut dengan penuh keikhlasan. Ketika keduanya telah menunjukkan kepatuhan, Allah SWT mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba.

Dari peristiwa itu, umat Islam belajar bahwa kecintaan kepada Allah harus ditempatkan di atas segala-galanya. Tidak sedikit manusia yang sulit melepaskan harta, jabatan, bahkan ego dirinya sendiri.