Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap draf kesepakatan damai yang tengah dirundingkan dengan Iran.

Ia menegaskan bahwa Washington siap melanjutkan aksi militer apabila kesepakatan akhir gagal tercapai.

>>> Investor Efek Syariah Tembus Empat Juta, Naik 35 Persen

Sikap keras ini muncul setelah televisi negara Iran melaporkan adanya draf perjanjian yang mengklaim pembukaan Selat Hormuz dan penarikan militer AS.

Gedung Putih langsung merespons dengan menyebut isi draf tersebut sebagai rekayasa total.

"Mereka hanya ingin membuat kesepakatan - menurut saya mereka tidak punya pilihan," ujar Trump, seperti dikutip dari Media Indonesia.

Kondisi krisis ekonomi dan politik internal dinilai menjadi pendorong utama Teheran untuk melunakkan sikap dalam perundingan.

Meski demikian, Trump memastikan AS tidak akan terburu-buru menyetujui poin yang merugikan kepentingan mereka.

"Iran sangat berniat, mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Sejauh ini, mereka belum mencapainya dan kami tidak puas.

Namun sekarang kami akan mencapainya atau kami terpaksa harus menyelesaikan pekerjaan ini," lanjut Trump.

>>> Aplikasi Gamee Hadiahi Pemain Total 10.000 Dolar AS Lewat Undian Mingguan

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga memberikan klarifikasi mengenai kelanjutan pembicaraan bilateral. Ia mengakui adanya kemajuan dan ketertarikan sepanjang proses diplomasi yang berjalan di tengah tensi tinggi.

"Kita akan lihat dalam beberapa jam dan hari ke depan apakah kemajuan bisa dicapai," kata Rubio.

Sebelumnya, media Iran mengklaim kesepakatan akan mencakup pencabutan blokade laut oleh AS.

Sebagai gantinya, arus perdagangan komersial di Selat Hormuz akan dipulihkan dalam tempo satu bulan di bawah pengawasan bersama Iran dan Oman.

Namun, Trump membantah keras klaim tersebut. Ia menegaskan tidak boleh ada pihak manapun yang mengendalikan jalur maritim strategis itu.

Ia juga menepis isu pelonggaran sanksi ekonomi serta keterlibatan Rusia dan Tiongkok dalam mengamankan uranium Iran.

Konflik bersenjata ini pertama kali meletus setelah pasukan koalisi AS dan Israel meluncurkan serangan udara masif ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu.

>>> Aplikasi DANA Batasi Fitur Berbagi Saldo Maksimal 24 Jam

Situasi sempat mereda melalui gencatan senjata pada 8 April, sebelum kembali memanas minggu ini.