Momen itu menjadi favorit sepanjang perjalanan.

Tidak ada yang spektakuler. Hanya penulis, angin laut, kaki lelah, dan sore yang damai di Hayama.

Seorang warga lokal bertanya dari mana asalnya dan apa yang membawanya ke kota itu. Ketika penulis menjawab karena MV MyGO, ia tersenyum dan menyuruhnya menikmati Hayama.

Seluruh ziarah memakan waktu sekitar enam hingga tujuh jam, sebagian besar berjalan kaki. Penulis merasa telah menjelajahi sisi Jepang yang lebih tenang, berbeda dari keramaian Tokyo atau Kyoto.

Yang paling disukai adalah Hayama terasa nyata, bukan sekadar lokasi anime.

Namun, ada penyesalan: tidak mencoba makanan lokal seperti Hayama-gyu atau shirasu-don karena terlalu kenyang dari makanan minimarket dan lelah.

Penulis berharap bisa kembali saat musim semi, karena melihat banyak pohon sakura dan membayangkan betapa indahnya garis pantai di bawah sinar matahari yang lebih hangat.

Gunung Fuji juga bersembunyi di balik awan; pemandangan jalan pesisir dengan Fuji di seberang laut pasti menakjubkan.

Setelah ziarah Hayama, penulis masih memaksakan diri menuju Pantai Shichirigahama untuk mengunjungi lokasi anime lain dan melihat Enoshima di kejauhan.

Namun, setelah hampir sepuluh jam berjalan, tubuhnya menyerah. Mungkin itu perjalanan untuk lain hari.

Penulis menyadari bahwa ziarah anime bukan hanya tentang mengunjungi lokasi favorit.

Ada kegembiraan berdiri di tempat karakter berdiri, tetapi yang paling berkesan adalah momen di antaranya: jalan-jalan tenang di tepi laut, percakapan dengan orang asing, suasana damai kota pesisir kecil.

"Egakumirai" berarti "masa depan yang kita gambar." Setelah seharian menjelajahi Hayama, penulis mengerti mengapa kota ini dipilih untuk lagu itu.

Menggambar masa depan tidak selalu berarti mengejar sesuatu yang besar.

>>> Park Eun-bin Nikmati Peran Pahlawan Kacau di Netflix 'The WONDERfools'

Kadang, masa depan adalah hal yang lebih kecil dan lembut: berjalan di tepi laut di bawah sinar matahari hangat, melangkah maju satu langkah tenang pada satu waktu.