Faktor pendukung lain seperti kesiapan dermaga, lapangan penumpukan, gudang, hingga akses gerbang terminal memegang peranan krusial.

Kemampuan memangkas waktu singgah kapal atau turn around time agar sesuai dengan slot pelayanan menjadi indikator utama keberhasilan terminal.

Di samping penambahan unit baru, pihak pengelola juga melakukan langkah retrofitting untuk memperbarui alat lama demi memperpanjang masa pakai.

Resiliensi Logistik di Terminal Regional

Langkah penguatan di wilayah regional dinilai sangat strategis, terutama melihat dinamika di Terminal Kijing.

Sepanjang tahun 2025, pelabuhan ini mencatatkan kenaikan kunjungan kapal hingga 15 persen dengan total mencapai 741 panggilan.

"Terminal Kijing mengalami lonjakan kunjungan kapal dengan volume kargo nonpetikemas yang cukup besar, baik curah kering maupun curah cair dari industri hilirisasi kelapa sawit dan alumina," ujarnya.

Raja Oloan Saut Gurning menambahkan bahwa aktivitas di Kijing selama ini masih bertumpu pada Harbour Mobile Crane (HMC) dan Reach Stacker.

Oleh karena itu, kehadiran alat baru sangat mendesak untuk mendongkrak produktivitas.

Kondisi serupa terlihat di TPK Banjarmasin yang memegang peran sebagai jalur utama logistik Kalimantan berkat pertumbuhan arus barang domestik yang kuat.

Kenaikan ini didorong oleh tingkat konsumsi masyarakat serta aktivitas industri hinterland penyokong sektor pertambangan.

"Arus barang domestik di koridor ini menunjukkan resiliensi yang kuat, terutama dipicu konsumsi domestik dan kebutuhan industri hinterland pendukung pertambangan," katanya.

Kondisi tersebut memicu kepadatan frekuensi kunjungan kapal yang mulai memberikan tekanan pada kapasitas tampung lapangan penumpukan.

>>> Pemkot Tasikmalaya Imbau Panitia Kurban Gunakan Bungkus Ramah Lingkungan

Sementara itu di Kendari, urgensi perluasan kapasitas mencuat sejak operasional dipindahkan ke Bungkutoko atau Kendari New Port yang kini memiliki kapasitas menembus kisaran 116.000 TEUs.