Ayumu Watanabe, sutradara anime Witch Hat Atelier, mengungkapkan tantangan besar dalam mengadaptasi manga karya Kamome Shirahama. Ia menyebut proyek ini sebagai "usaha yang sembrono".

Dalam wawancara dengan Comic Natalie, Watanabe menceritakan pengalamannya saat pertama kali membaca manga tersebut. Ia langsung sadar betapa sulitnya mengubahnya menjadi anime.

>>> Magilumiere Magical Girls Season 2 Rilis Trailer Baru, Cast, dan Lagu Penutup

"Saya pikir, 'Ini pasti sangat sulit dijadikan anime.' Jadi ketika tawaran adaptasi datang, reaksi saya adalah, 'Usaha yang sembrono,'" ujar Watanabe.

Ia menjelaskan bahwa gambar manga yang padat dan dunia yang rumit membuat penyederhanaan visual hampir mustahil tanpa menghilangkan identitas karya asli.

"Salah satu kekuatan terbesar seri ini adalah tingkat detailnya. Sebagai penggemar, saya tidak ingin melihat itu dikurangi hanya karena menjadi animasi," katanya.

Alih-alih memotong, produksi justru memilih untuk merangkul kompleksitas.

Watanabe menggambarkan anime ini sebagai tantangan besar bagi staf, terutama karena banyaknya garis dan gerakan di setiap adegan.

"Dalam produksi anime, biasanya ada kecenderungan untuk menetapkan 'ini cukup detail.' Tapi untuk proyek ini, kami membuang cara berpikir itu.

Itu berarti menggambar lebih banyak dan menuntut kualitas serta kuantitas lebih tinggi dari staf. Itu tantangan besar," jelasnya.

Tim produksi juga sangat teliti dalam menciptakan ekosistem fantasi manga, mulai dari bahan kain hingga pola gerakan hewan dan makhluk fiksi.

"Bahkan sesuatu sederhana seperti kain berubah tergantung bahannya. Kami harus mempertanyakan asumsi yang kami bawa dari dunia nyata," kata Watanabe.

Staf mempertimbangkan bagaimana setiap makhluk di dunia itu bergerak dan berperilaku secara realistis.

"Misalnya, dengan kereta bersayap, kami mulai bertanya apakah makhluk yang menariknya akan mengepakkan sayap segera atau hanya setelah mulai berlari.