Selama beberapa waktu terakhir, Yasinta mengatakan dirinya beberapa kali diajak bepergian ke luar daerah, termasuk enam kali perjalanan Merauke–Jakarta pulang pergi serta tiga kali penerbangan Merauke–Makassar.

Meski kerap dibawa ke Jakarta, Yasinta mengaku tidak mengetahui tujuan sebenarnya dari perjalanan tersebut.

“Saya diajak ke Jakarta enam kali. Di atas pesawat saya panik, ini mau apa. Sampai Jakarta mereka ajak saya demo kamisan, minta saya bersuara menolak PSN. Karena terpengaruh, saya ikut saja, namun sekarang saya sadar, saya tidak mau ikut tolak PSN lagi,” katanya.

Ia juga mengaku tidak pernah menerima bantuan berarti selama mengikuti perjalanan-perjalanan tersebut.

Menurut Yasinta, fasilitas yang diberikan hanya sebatas biaya perjalanan dan uang saku dalam jumlah terbatas.

“Yang saya dapat cuma capeknya saja. Mereka fasilitasi, jadi kalau mereka fasilitas terus uang duduknya cuma Rp2 juta, Rp1,5 juta itu saja yang kami dapat dari mereka,” ungkap Yasinta.

Atas kejadian itu, Yasinta meminta agar peredaran film Pesta Babi segera dihentikan karena dirinya merasa dijebak dan tidak pernah memberikan persetujuan untuk terlibat.

“Saya dijebak, dimanfaatkan oleh mereka. Jadi saya minta Film Pesta Babi untuk dihentikan. Tidak ada izin dan sepengetahuan saya. Harus dihentikan film itu,” tutupnya.